Usul Seragamkan Nama Singaraja untuk SMA/SMK Negeri di Buleleng

SINGARAJA, Kilasbali.com — Ketua Komisi II DPRD Bali, Agung Bagus Pratiksa Linggih berencana usulkan penyeragaman nama Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) status Negeri di Kabupaten Buleleng. Hal tersebut mengacu desakan pokok pikiran (Pokir) hasil penyerapan aspirasi masyarakat di Buleleng.
Politisi Golkar asal Desa Tajun, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng-Bali itu mengaku, permintaan masyarakat tersebut akan segera dicarikan solusi bersama leading sektor terkait di Pemerintah Provinsi (Pemprop) Bali, khususnya Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora).
Pria yang akrab disapa Ajus menyebut, kronologi usulan penyeragaman atau penggantian nama belakang SMA/SMK Negeri itu, berdasarkan hasil curhat (curahan hati) masyarakat, dimana para orangtua mengeluhkan ketika anaknya notebene calon peserta didik baru, ngotot pilih lamar sekolah di jantung Kota Singaraja, semisal SMAN 1 Singaraja ataupun SMAN 4 Singaraja. Alasannya, karena kedua sekolah tersebut menyandang status sekolah favorit di Kabupaten Buleleng.
- “Seandainya pelamar (calon peserta didik baru) ini tinggal di seputaran Kota Singaraja lamar SMAN 1 atau SMAN 4 Singaraja, kan masih mending, artinya jarak tempat tinggal dengan sekolah cukup dekat Nah, hal ini akan jadi beda jika pelamar tinggal di wilayah Kecamatan Gerokgak, dimana jarak serta waktu tempuh sangatlah tidak ideal, jarak dari Gerokgak menuju Kota Singaraja, lebih kurang jaraknya sekitar 50 kilometer, tentunya ngaruh dengan waktu tempuh, bisa memakan waktu lebih dari 30 menit. Curhat masyarakat serta alasan dari para pelamar itu, dimana penggunaan nama wilayah (kecamatan) di belakang SMA/SMK Negeri di Buleleng jadi salah satu pemicu keengganan calon peserta didik baru lamar sekolah di wilayah masing-masing. Mayoritas pelamar (calon peserta didik baru) lebih memilih SMAN 1 dan 4 Singaraja jadi pilihan pertama. Kenapa demikian, alasannya cukup simple, karena kedua SMA Negeri tersebut merupakan sekolah favorit di Buleleng. Nah, kekhawatiran kita selaku wakil rakyat, pelamar ini cenderung memilih sekolah favorit itu, lebih kepada gengsi dan sensasi, bukan mengacu kepada prestasi akademik atau non akademik. Kemudian, dari sisi perbandingan pelamar setiap tahun ajaran baru, datanya pun cukup jomplang, misal SMAN 1 dan 4 Singaraja, jumlah pelamar berjubel, tembus ribuan pelamar, sementara SMAN 1 Sukasada, SMAN 1 Kubutambahan atau SMAN 1 Gerokgak malah minim pelamar,” ungkap Ajus pada Sabtu (7/2).
Alternatifnya, usul penyeragaman atau penggantian nama belakang Singaraja untuk seluruh SMA/SMK Negeri di Buleleng, dinilai cukup ideal untuk dipertimbangkan.
“Penyeragaman nama belakang sekolah sudah diterapkan kok, contoh SMA/SMK Negeri di Kota Denpasar, selain itu juga dipakai di wilayah Jakarta. Jadi, di Buleleng SMAN 1 tidak berhenti sampai SMAN 4 Singaraja saja, nanti disambung SMAN 1 Gerokgak dirubah jadi SMAN 5 Singaraja, SMAN 1 Kubutambahan juga dirubah jadi SMAN 6 Singaraja, dan begitu seterusnya. Ya, rencananya usulan berlaku untuk seluruh SMKN di Buleleng,” terangnya.
Ketika ditanya rencana usulan itu bakal efektif?
“Oh iya, kami rasa cara itu salah satu cara efektif untuk pemerataan pendidikan di Buleleng, sekaligus meredam effort (gengsi-tujuan) calon peserta didik baru. Kita akan berupaya penyeragaman nama belakang Singaraja untuk SMA/SMK Negeri di Buleleng segera didiskusikan bersama Gubernur Bali, dan Disdik Bali. Besar harapan kita, sektor pendidikan tidak jadi pekerjaan rumah (PR) di masa mendatang,” pungkasnya. (Ard/kb)

















