Nelayan Pantai Yeh Gangga Hampir Seminggu Tak Melaut Akibat Cuaca Buruk

TABANAN, Kilasbali.com – Cuaca ekstrem yang memicu gelombang tinggi di pesisir selatan Kabupaten Tabanan memaksa para nelayan di Pantai Yeh Gangga untuk menyandarkan jukung mereka selama empat hari terakhir.
Kondisi ombak yang mencapai ketinggian sekitar dua meter dinilai terlalu berisiko bagi keselamatan para pencari ikan di wilayah Desa Sudimara tersebut.
Dampak dari kondisi alam ini membuat aktivitas ekonomi di pinggir pantai tampak lesu dengan jajaran perahu yang hanya terparkir rapi.
Salah satu nelayan setempat, Wayan Leder (65), mengungkapkan bahwa dirinya harus kehilangan potensi pendapatan harian mencapai Rp 250 ribu akibat tidak bisa melaut.
“Teman-teman nelayan disini semua tidak ada yang melaut karena cuaca buruk,” ujar Leder pada Selasa (21/7).
Selama masa jeda, Leder mengisi waktunya dengan melakukan pemeliharaan alat tangkap serta memperbaiki jaring.
Meski sudah lanjut usia, Leder mengaku tetap melek teknologi dengan memantau pergerakan iklim melalui ponsel pintarnya.
Ia berupaya mengikuti kemajuan teknologi agar bisa memastikan keamanan sebelum memutuskan untuk kembali menerjang ombak.
“Saya biasanya mengikuti perkembangan cuaca lewat HP. Biasanya memantau perkembangan cuaca yang diumumkan BMKG,” jelasnya.
Dari hasil pantauannya, ia memprediksi aktivitas melaut bisa kembali dimulai pada tengah pekan ini karena “Ramalan cuaca sih informasinya besok sudah membaik,” sebutnya.
Leder memaparkan, dalam kondisi normal, ia biasanya mampu menjaring ikan hingga lima kilogram.
“Biasanya sekali melaut itu dapat lima kilogram. Pembelinya masyarakat sekitar sini,” imbuhnya.
Selain ikan, ia juga sesekali mendapatkan lobster meski saat ini belum memasuki masa panen raya. Biasanya, lobster itu akan ia jual kepada pengepul.
Selain memperbaiki perahu atau alat tangkap, ia juga mengisi waktu dengan menjadi buruh di sawah.
“Saya mengolah sawah. Tetapi lahannya bukan punya saya. Cuma dipinjamkan saja,” ungkap Leder.
Para nelayan di Yeh Gangga kini menaruh harapan besar pada bulan Agustus mendatang yang diprediksi menjadi puncak musim tangkap lobster.
Pada periode tersebut, penghasilan mereka diharapkan dapat meningkat signifikan untuk menutupi kerugian selama cuaca buruk.
“Kalau musim lobster biasanya dapat jual lobster hingga Rp500 ribu sekali melaut,” pungkasnya. (c/kb)

















