Realisasi Perbaikan Jembatan Sambuk Sudah 17 Persen

TABANAN, Kilasbali.com – Perbaikan Jembatan Yeh Ngigih atau yang lebih dikenal dengan sebutan Jembatan Sambuk hingga kini masih berproses.
Sampai saat ini, jembatan yang menghubungkan Desa Pesagi di Kecamatan Penebel dengan Desa Gadung Sari di Kecamatan Selemadeg Timur itu sudah mencapai 17 persen.
Capaian pengerjaan itu melampaui rencana awal yang ditetapkan sebesar 15,827 persen. Sehingga ada kemajuan dalam proyek senilai Rp 6,1 miliar lebih ini sekitar 1,418 persen.
Kepala Dinas PUPR Tabanan, I Gde Made Partana, menyatakan optimisme terhadap kelancaran proyek yang ditargetkan rampung pada akhir tahun ini.
Percepatan pengerjaan di lapangan diupayakan agar jembatan dapat segera difungsikan oleh masyarakat secara permanen.
“Progresnya sudah di atas target. Kami optimis pekerjaan berjalan sesuai jadwal dan bisa rampung Desember 2026,” ujar Partana pada Selasa (4/8).
Jembatan baru tersebut nantinya akan memiliki panjang 15,6 meter dengan lebar 6 meter menggunakan konstruksi permanen.
Pembuatan konstruksi permanen itu untuk mengantisipasi benturan keras debit air di kala hujan.
Sebab, beberapa tahun lalu, jembatan yang jadi urat nadi antara Desa Pesagi dan Gadung Sari ini rusak akibat diterjang banjir.
Akibat banjir saat itu, jembatan sepanjang 14 meter tersebut mengalami kerusakan parah di bagian tengah hingga terbelah dua.
Kondisi ini menyebabkan akses kendaraan roda dua maupun roda empat ditutup total, sehingga mengganggu distribusi hasil pertanian warga.
Perbekel Desa Gadung Sari, I Wayan Sindreg, menjelaskan bahwa antusiasme masyarakat sangat tinggi menyambut proses pembangunan yang sudah berjalan sejak Juni lalu.
Ia mengakui proses pengajuan perbaikan ini membutuhkan waktu karena adanya penyesuaian status administrasi jalan.
“Pembangunan sudah dimulai sejak Juni. Masyarakat sangat menyambut baik, karena dulu sempat viral Jembatan Sambuk ini,” ungkap Sindreg.
Julukan Jembatan Sambuk sendiri melekat karena warga sempat melakukan aksi swadaya memperbaiki akses menggunakan serabut kelapa pada 2024 agar tetap bisa dilalui kendaraan.
Namun, kekuatan perbaikan darurat tersebut tidak mampu membendung terjangan banjir besar yang kembali melanda wilayah tersebut.
Kini, pemerintah daerah telah meningkatkan status jalur tersebut dari jalan desa menjadi jalan kabupaten agar dapat ditangani secara permanen melalui anggaran daerah.
Pihak desa pun turut mendampingi tim agraria melakukan pengukuran guna mempercepat proses administrasi pembangunan jembatan.
Keberadaan jembatan permanen ini dinilai sangat krusial sebagai akses pendukung kelancaran lalu lintas di wilayah Tabanan bagian barat.
“Kalau jalur utama macet atau terganggu, ini menjadi satu-satunya akses alternatif bagi masyarakat,” ungkap Sindreg. (c/kb)

















