300 Lebih Tokoh Adat-Ormas Tuntas Ikuti Diklat Bela Negara Selama 3 Hari

TABANAN, Kilasbali.com – Lebih dari 300 orang tokoh adat, tokoh agama, ormas, hingga komunitas se-Bali tuntas mengikuti Latihan Kader Bela Negara Tahun Anggaran 2026 selama tiga hari.
Pada Kamis (24/9), pembekalan mental dan wawasan kebangsaan tersebut resmi ditutup di Rindam IX/Udayana, Desa Banjar Anyar, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan.
Program pembinaan yang diamanatkan oleh Kementerian Pertahanan ini berlangsung sejak Selasa (22/9) hingga hari ini dan diikuti oleh 352 orang peserta.
Gemblengan kedisiplinan tersebut dirancang untuk memperkuat jiwa nasionalisme serta rasa cinta tanah air bagi seluruh komponen masyarakat Bali.
Danrindam IX/Udayana Brigjen TNI Anwar menegaskan, para alumni pelatihan diposisikan sebagai pilar utama penyebar nilai-nilai kebangsaan.
Menurutnya, hasil pembinaan selama tiga hari di markas militer tersebut tidak sekadar untuk kepentingan diri sendiri, melainkan wajib ditularkan ke lingkungan masyarakat.
“Mereka ini bisa dibilang agen perubahan yang nantinya menyebarkan rasa cinta tanah air kepada lingkungan sekitar, baik di tempat kerja maupun di rumah,” ujar Anwar pada Kamis (24/9).
Anwar mengungkapkan, penggemblengan ratusan tokoh masyarakat di Rindam IX/Udayana ini merupakan gelombang awal.
Pihaknya berencana melanjutkan agenda serupa dengan kapasitas peserta yang lebih besar pada masa mendatang.
“Ini yang pertama, nanti akan dilanjutkan dengan jumlah yang kemungkinan lebih banyak,” katanya.
Di sisi lain, perwakilan Komunitas Kawan Alam Indonesia, Fam Surya Panjaitan (40), membagikan pengalamannya selama mengikuti diklat tersebut.
Pria asal Desa Padangsambian Kaja, Denpasar ini mengaku merasakan perubahan fisik dan mental usai berbaur dengan peserta dari berbagai latar belakang.
“Awalnya kami bisa dibilang masih loyo sebelum masuk ke sini. Tapi setelah selesai, lebih sadar akan bernegara,” kata Fam.
Ia menceritakan, gemblengan aturan militer mengajarkan kedisiplinan tinggi dan kesederhanaan.
Hal tersebut tampak dari kebiasaan pola makan harian peserta yang wajib menerima serta menikmati sajian makanan yang telah disediakan panitia.
“Di sini apa yang ada itu yang harus dimakan. Kita hanya berpikir bagaimana mengikuti kegiatan selanjutnya dengan kekuatan dari makanan itu,” terangnya.
Sekembalinya ke lingkungan asal, Fam bertekad meneruskan nilai-nilai bela negara yang didapat mulai dari keluarga terkecil, yakni anak dan istrinya.
Sebagai pengurus komunitas, ia juga bakal memboyong semangat kebangsaan tersebut dalam setiap agenda organisasi agar pembentukan karakter tecermin lewat tindakan nyata di tengah masyarakat. (c/kb)

















