Tenten Mart, Minimarket ‘Keren’ Milik Desa Adat Guwang

GIANYAR, Kilasbali.com – Tenten Mart sebagai salah satu unit usaha atau Baga Utsaha Padruenan Desa Adat (BUPDA) Desa Adat Guwang, Sukawati Gianyar mulai diketok tularkan ke desa adat lainnya. Minimarket ‘keren’milik adat yang pertama di Gianyar ini, dinilai sangat ideal dikembangkan, sekaligus memerangi minimarket berjejaring nasional yang sedang menjamur.
Namun, sayang sejumlah desa adat harus menunda keinginannya, karena permodalan cukup tinggi.
Bendesa Adat Guwang, I Made Karben Wardana mengakui, sejak membuka Tenten Mart, pihaknya banyak menerima telepon dari rekan-rekannya sesama bendesa dari lainnya. Karena juga ingin memajukan BUPDA dan menilai Teten Mart ini sangat menjanjikan.
“Mereka kebanyakan menanyakan sistem pendirian, permodalan, pengelolaan serta konsepnya,” ungkap Karben.
Karben menjelaskan, Teten Mart yang bangun oleh desa adat Guwang merupakan program kerja sudah lama dari prajuru desa adat dalam perekonomian, untuk meningkatkan pendapatan desa desa adat.
Setelah dikeluarkannya perda nomor 4 tahun 2019, ada pasal yang mengamanatkan desa adat mengembangkan Baga Utsaha Padruenan Desa Adat (BUPDA).
“Di dalam BUPDA itu ada disebutkan disebutkan beberapa unit usaha yang bisa menjalankan salah satunya minimarket,” jelasnya.
Selian itu, kebijakan bupati yang tidak mengeluarkan izin toko berjejaringan, membuat pihaknya semakin bersemangat untuk mendirikan minimarket.
Adanya dorongan dari Gubernur Bali untuk menggali potensi perekonomian desa adat agar desa adat menjadi mandiri.
“Pemilihan nama Tenten Mart ini sudah dirancang oleh MDA dan direncanakan sebagai brending untuk seluruh desa adat yang akan mendirikan minimarket,” jelasnya.
Terkait supplier barang, pihaknya bekerja sama dengan pihak PT. Bali Sari Luwih. Karena pihaknya belum bisa mengelola minimarket secara profesional.
Harga yang ditawarkan pun bersaing dengan minimarket yang sudah ada.
Selain itu, dipastikan tidak akan lebih murah dari harga barang di warung milik warga di sekitar.
Sementara dalam mendirikan Tenten Mart ini, pihak desa adat mengeluarkan sekitar Rp 700 juta. Sudah lengkap bangunan dan berisi barang. Untuk modal di luar bangunan disebutkan sekitar Rp 250 – 300 juta.
“Kami melibatkan oleh 7 pegawai, Berasal dari 7 perwakilan banjar adat di desa adat Guwang,” jelas Karben Wardana yang kini periode kedua sebagai bendesa ini.
Karben Wardana mengatakan Tenten Mart ini belum bisa dibuka 24 jam. Namun ke depan kemungkinan akan dibuka 24 jam. “Sementara baru bisa dari jam 7.00 sampai 22.00, kalau perekonomian bagus kedepannya kemungkinan akan 24 jam,” jelasnya. (ina/kb)

















