70 Pedagang Terminal Pesiapan Direlokasi Mulai 1 Juni 2026

TABANAN, Kilasbali.com – Sebanyak 70 pedagang di kawasan Terminal Pesiapan, Tabanan, akan direlokasi.
Relokasi tersebut sehubungan akan dilakukannya penataan yang hendak dilaksanakan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tabanan di Terminal Pesiapan.
Pemerintah daerah setempat menargetkan seluruh area terminal sudah steril dari aktivitas perdagangan pada 1 Juni 2026 mendatang.
Relokasi ini menyasar berbagai klasifikasi pedagang, mulai dari 20 pedagang kios, 26 pedagang bermobil, hingga 24 pedagang lapak.
Langkah pengosongan lahan dilakukan untuk mempercepat dimulainya pengerjaan fisik di pusat transportasi tersebut.
Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperindag) Tabanan, I Gede Sukanada, menegaskan bahwa jadwal pemindahan ini merupakan hasil koordinasi lintas instansi.
Pihaknya memastikan penataan kawasan harus berjalan sesuai dengan linimasa yang telah ditetapkan bersama Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).
“Sesuai koordinasi dengan Dinas PU, per 1 Juni 2026 kawasan Terminal Pesiapan harus sudah kosong,” ujar Sukanada dalam sosialisasi kepada para pedagang pada Senin (25/5).
Para pedagang bermobil dan lapak kini diarahkan untuk menempati area Jalan Kutilang atau di jalur menuju eks Kantor Dinas Ketahanan Pangan, kawasan Pasar Dauh Pala.
Sedangkan untuk para pedagang kios akan dipindahkan sementara ke Terminal Tuakilang di Desa Denbantas.
Pemerintah juga memberikan kelonggaran bagi pedagang kios yang memilih untuk mencari lokasi berjualan secara mandiri selama masa penataan berlangsung.
Meski demikian, mereka tetap diwajibkan melakukan koordinasi dengan dinas terkait untuk pemutakhiran data. “Tetap melapor supaya masuk dalam data,” tegas Sukanada.
Proses relokasi ini sempat diwarnai kekhawatiran dari sejumlah pedagang mengenai kepastian tempat usaha mereka setelah proyek rampung.
Hal ini terungkap saat sesi sosialisasi yang digelar di Masjid Nurul Falah, kawasan Terminal Pesiapan.
Salah satu pedagang kios, Sulistyawati, mengaku mendukung penuh program penataan pemerintah meski ada rasa was-was terkait kelanjutan usahanya.
Sulistyawati yang sudah berdagang sejak tahun 1980-an ini berharap tetap bisa kembali berjualan di lokasi semula. “Harapan saya bisa kembali mendapat tempat setelah terminal selesai ditata,” ungkapnya.
Selain faktor ketersediaan tempat di masa depan, jarak lokasi relokasi juga menjadi pertimbangan bagi sebagian warga.
Beberapa pedagang menilai Terminal Tuakilang terlalu jauh dari jangkauan pelanggan setia mereka sehingga lebih memilih mencari lapak sementara secara mandiri. “Kalau ke Tuakilang jauh, saya cari tempat mandiri saja,” sebutnya. (c/kb)

















