‘Punia Bawi’, Desa Tulikup Siasati Kebutuhan Daging saat Galungan

GIANYAR, Kilasbali.com – Inovasi Pemerintahan Desa Tulikup Gianyar mencolok momentum menjelang Hari Raya Galungan dan kuningan. Meski alokasi dana desa (ADD) anjlok, APBdes yang mengkatrol signifikan melahirkan program ‘Punia Bawi’.
Menariknya, Belasan Pura Dang Khayangan dan Kayangan Tiga terima punia babi senilai Rp 11 kuta.
Di temui, Selasa (2/6) Perbekel Tulikup, I Made Ardika membenarkan program ‘Punia Bawi’ tersebut sebagai wujud yadnya Pemerintahan desa untuk warga yang mengayomi pura-pura yang ada. Hal ini dilatari oleh beberapa kondisi mulai dari peningkatan pendapatan desa kemudian timbul ide untuk mengurangi beban warga, khususnya dalam momentum Hari Raya Galungan dan Kuningan.
“Dari 17 pura Dang Kayangan dan Kayangan Tiga, mayoritas piodalannya di saat suasana hari Raya Galungan dan Kuningan. Sehingga program ini sangat berdampak pada warga yang juga sebagai pengemong pura, bebannya diringankan,” ungkapnya.
Disebutkan, program tersebut didanai melalui Pendapatan Asli Desa (PADes) yang bersumber dari berbagai unit usaha milik desa, seperti pasar desa, usaha gas elpiji, dan sembako. “Bantuan yang diberikan berupa babi yang akan digunakan sebagai sarana upacara keagamaan di masing-masing pura. Nilainya Rp11 juta untuk setiap paket bantuan yang terdiri atas dua ekor babi,” terangnya.
Harapannya, program ini membantu beban warga sekaligus memotivasi kebersamaan masyarakat. “Semenjak program ini berjalan dalam beberapa bulan terakhir, kehadiran desa benar-benar dirasakan manfaatnya oleh warga,” ujar Ardika.
Ia menambahkan, pemilihan bantuan berupa babi dilakukan karena hewan tersebut merupakan salah satu sarana penting dalam pelaksanaan berbagai upacara adat dan keagamaan di Bali.
Selain membantu kebutuhan upacara, program tersebut juga memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat. Seluruh babi yang disalurkan dibeli dari peternak lokal di Desa Tulikup sehingga mampu mendukung perputaran ekonomi desa.
“Kami memberdayakan peternak lokal agar manfaat program ini dirasakan lebih luas oleh masyarakat. Selain membantu pura, program ini juga mendukung usaha warga desa,” katanya.
Desa Tulikup memiliki tujuh banjar dinas dan dua desa adat yakni Desa Adat Tulikup Kelod dan Desa Adat Tulikup Kaler dengan total 17 pura dang khayangan. Penyaluran bantuan disesuaikan dengan kebutuhan dan jumlah krama di masing-masing wilayah.
Di Banjar Siyut, misalnya, bantuan diberikan berupa satu ekor babi karena disesuaikan dengan jumlah anggota banjar setempat.
Ardika berharap program tersebut dapat memperkuat hubungan antara pemerintah desa dan masyarakat. Menurutnya, kepedulian desa terhadap kebutuhan warga akan mendorong partisipasi masyarakat dalam mendukung pembangunan desa.
Berdasarkan estimasi PADes yang berasal dari berbagai unit usaha desa, pendapatan yang dikelola desa diperkirakan mencapai Rp300 juta hingga Rp500 juta. Pendapatan tersebut kemudian dimanfaatkan untuk berbagai program yang memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.
Melalui program punia ini, Pemerintah Desa Tulikup berharap pelaksanaan tradisi keagamaan dapat berlangsung dengan baik, sekaligus memperkuat ekonomi lokal melalui pemberdayaan peternak desa. (Ina/kb)

















