
TABANAN, Kilasbali.com – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tabanan melanjutkan penyaluran bantuan air bersih ke sejumlah wilayah perdesaan di Tabanan Barat yang terdampak krisis air akibat musim kemarau.
Penyaluran air bersih secara berkala tersebut dilakukan untuk membantu warga yang mengalami penurunan debit air bersih yang dipasok Perumda Tirta Amerta Buana (TAB) dari beberapa sumber mata air.
Langkah darurat ini diambil setelah pihak BPBD menerima laporan kebutuhan pasokan dari masyarakat melalui koordinasi bersama Perumda TAB.
Penurunan debit air baku selama musim kemarau membuat beberapa kawasan permukiman warga membutuhkan pasokan darurat.
Kepala Seksi Kedaruratan dan Logistik BPBD Tabanan I Putu Trisna Widiatmika menyampaikan bahwa proses penyaluran bantuan air ke titik-titik permukiman warga masih terus berjalan.
“Sekarang ada juga menyuplai,” ujar Trisna saat dikonfirmasi pada Rabu (30/9).
Dalam proses penyaluran bantuan air bersih tersebut, BPBD Tabanan mengoperasikan armada bantuan operasional dari BPBD Bali.
Pengambilan pasokan air bersih difokuskan melalui fasilitas penampungan resmi milik Perumda TAB.
“(Kami kerahkan) satu unit mobil tanki. Itupun pinjam dari BPBD Bali dengan kapasitas 5.000 liter,” jelas Trisna.
Penyaluran air bersih berkapasitas ribuan liter ini sudah berlangsung ke berbagai desa sejak beberapa hari terakhir.
Pada Jumat (24/9), armada menyasar Banjar Umaseka dan Banjar Petiles di Desa Antosari, Kecamatan Selemadeg Barat.
Layanan dilanjutkan pada Sabtu (26/9) di Banjar Jagatamu Desa Meliling, Kecamatan Kerambitan, serta Banjar Dukuh Pulu Kaja Desa Mambang, Kecamatan Selemadeg Timur.
Selanjutnya pada Senin (28/9), penyaluran menyasar Desa Bantas di Selemadeg Timur serta Banjar Umaseka dan Petiles di Antosari, disusul Banjar Munggu Desa Serampingan, Kecamatan Selemadeg pada Selasa (29/9).
Pada Rabu (30/9), tim gabungan kembali menyalurkan bantuan air ke Banjar Umaseka, Banjar Petiles di Desa Antosari, serta Banjar Dukuh Pulu Kaja di Desa Mambang.
Surutnya pasokan air bersih akibat penurunan debit air musim kemarau ini dirasakan langsung oleh ratusan kepala keluarga di wilayah perdesaan Selemadeg Barat.
Perbekel Desa Antosari I Wayan Agus Suriawan membeberkan bahwa sekitar 200 kepala keluarga di Banjar Gulingan, Petiles, dan Umaseka mengalami keterbatasan air sejak sebulan terakhir.
Kebutuhan air harian warga di wilayah dataran tinggi sempat tidak mengalir selama tiga hari.
Melihat kondisi tersebut, pihak desa langsung berkoordinasi meminta bantuan penanganan darurat kepada petugas PDAM dan BPBD.
“Tetapi kemarin sudah dibawakan air menggunakan mobil tanki,” kata Agus Suriawan.
Agus Suriawan menjelaskan, pasokan air untuk Banjar Petiles dan Umaseka utamanya mengandalkan Sumber Air Mekori.
Sementara itu, air bersih yang mengarah ke Banjar Gulingan dipicu oleh menyusutnya aliran sungai Yeh Otan.
“Bukan dari sumber air Mekori. Kalau yang di Banjar Gulingan sumbernya dari Sungai Yeh Otan,” jelasnya.
Menyusutnya debit air Sungai Yeh Otan dan Sumber Mekori memaksa penerapan sistem distribusi air secara bergilir.
Pengiriman air menggunakan truk tangki biasanya menyasar wilayah dataran tinggi hingga tiga kali dalam seminggu.
“Kebutuhan air meningkat terutama kalau ada warga yang kebetulan melaksanakan upacara adat,” pungkasnya. (c/kb)

















