
TABANAN, Kilasbali.com – Gelombang simpati dan bantuan materi terus mengalir bagi keluarga lima tersangka kasus pengeroyokan maut terduga maling ayam di Banjar Juwuk Legi, Desa Batunya, Kecamatan Baturiti.
Berbagai kalangan mulai dari relawan, yayasan, pejabat daerah, hingga anggota DPRD Tabanan turun tangan memberikan dukungan bagi istri dan anak-anak para tersangka yang kini kehilangan tulang punggung keluarga.
Bantuan tersebut salah satunya datang dari Bupati Tabanan yang disalurkan melalui wakilnya, I Made Dirga, pada Jumat (31/7).
Selain paket sembako, makanan, dan susu untuk balita, keluarga para tersangka juga menerima bantuan dana tali kasih serta jaminan perlindungan sosial untuk memastikan kondisi ekonomi mereka tetap terjaga selama proses hukum berlangsung.
Selain dukungan materi, pihak kepolisian turut memberikan perhatian dengan menerjunkan tim untuk melakukan pendampingan psikologis.
Langkah ini diambil guna memulihkan kondisi kejiwaan keluarga dari lima tersangka yakni MJ, WS, KB, MK, dan ND yang saat ini tengah menghadapi proses penyidikan di Mapolres Tabanan.
Ni Putu Ayu Yuni Astini (24), istri dari salah satu tersangka berinisial MJ, menyampaikan rasa syukur yang mendalam atas kepedulian yang ditunjukkan oleh berbagai elemen masyarakat.
Ia mengaku bantuan tersebut akan dimanfaatkan sebaik mungkin untuk menghidupi kedua buah hatinya yang masih kecil.
“Saya sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang tidak saya bisa sebut telah memberikan bantuan kepada keluarga kami,” ujar Ayu.
Meskipun menerima banyak dukungan, Ayu tak menampik bahwa dirinya masih merasa trauma dengan insiden pencurian yang terjadi pada Jumat (24/7) lalu.
Ia merasa terpukul karena suaminya yang sehari-hari bekerja sebagai petani itu harus mendekam di penjara akibat upaya membela diri dari ancaman senjata tajam terduga pelaku pencurian.
Beban psikologis Ayu semakin bertambah karena harus menutupi kenyataan pahit tersebut dari anak-anaknya.
Kepada anak sulungnya yang masih balita, ia terpaksa mengarang cerita mengenai keberadaan sang ayah agar sang anak tidak merasa sedih.
“Anak saya nomor pertama usia empat tahun sering tanya bapaknya. Saya bilang ayah lagi kerja ke Lombok,” tutur Ayu.
Di tengah situasi sulit ini, Ayu terus berharap adanya rasa keadilan serta keringanan hukuman bagi suaminya.
Ia menegaskan kembali bahwa tindakan suaminya pada saat kejadian murni merupakan reaksi spontan demi keselamatan diri dan bukan didasari niat untuk mencabut nyawa orang lain.
“Suaminya seorang petani tidak ada niat untuk menghilangkan nyawa atau membunuh, karena kejadian pada ini untuk membela diri,” pungkasnya. (c/kb)
















