Petani Subak Jaka di Desa Kukuh Marga Uji Coba Drone Semprot Padi Organik

TABANAN, Kilasbali.com – Kelompok petani di Subak Jaka, Desa Kukuh, Kecamatan Marga menguji coba penyemprotan pupuk cair pada tanaman padi organik menggunakan pesawat tanpa awak (drone sprayer).
Terobosan teknologi digital ini terbukti meningkatkan efisiensi pemeliharaan sawah dari jam menjadi hitungan menit.
Uji coba pemupukan berbasis teknologi modern tersebut diterapkan di atas lahan sawah seluas 35 are.
Proses penyemprotan memanfaatkan pupuk cair jenis Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR)[3].
Pekaseh Subak Jaka, Ir I Wayan Yusa, menjelaskan bahwa uji coba peralatan canggih tersebut diawali dari ajakan salah seorang rekannya yang memiliki unit drone pribadi.
“Kebetulan salah seorang teman mengajak untuk menguji coba drone tersebut,” ujar Yusa, Senin (14/9).
Setelah melalui proses uji coba, ia melihat adanya efektivitas dari proses perabukan dengan menggunakan drone tersebut.
“Setelah drone itu diujicobakan, menurut pengamatan saya itu sangat efektif,” tambahnya.
Yusa membeberkan, perabukan secara konvensional menggunakan sprayer manual atau mesin biasanya memerlukan waktu sekitar dua jam untuk menghabiskan satu tangki kapasitas 14 liter di lahan 35 are.
Sementara itu, pengoperasian drone sanggup merampungkan pemupukan secara merata hanya dalam hitungan menit.
“Pakai drone berapa menit saja selesai. Cuma harus pintar mengendalikan biar tidak nabrak. Barang mahal nabrak, hancur,” bebernya.
Meskipun menawarkan efisiensi tinggi, tingginya harga unit drone menjadi kendala utama bagi para petani lokal.
Satu unit drone sprayer dibanderol seharga Rp 175 juta lengkap dengan empat baterai serta tangki berkapasitas 15 liter.
“Satu unit drone itu Rp 175 juta dapat baterai empat dengan tanki berkapasitas 15 liter,” ungkap Yusa.
Atas pertimbangan keterbatasan modal, pihak Subak Jaka berencana mengajukan proposal bantuan pengadaan drone kepada pemerintah maupun pihak ketiga melalui kelompok tani khusus padi organik.
Penggunaan teknologi ini juga diharapkan mampu menarik minat generasi muda untuk terjun ke sektor pertanian. “Tidak sulit jadi petani. Dari rumah bisa melakukan penyemprotan (pupuk cair),” tutur Yusa.
Pemanfaatan teknologi ini diposisikan untuk membantu kelestarian pertanian organik di Subak Jaka yang lahannya kian menyusut.
Dari total luas subak 48 hektar, areal tanam padi organik terus berkurang dari sepuluh hektar pada 2019 menjadi lima hektar pada 2023 dan kini menyisakan 2,7 hektar akibat tingginya biaya pemeliharaan. (c/kb)

















