Konservasi Penyu di Yeh Gangga Sedang Padat Akibat Masuki Musim Bertelur

TABANAN, Kilasbali.com – Aktivitas pengeraman dan penetasan anak penyu atau tukik di tempat Konservasi Penyu yang ada di Pantai Yeh Gangga beberapa waktu ini sedang padat-padatnya.
Ini karena sepanjang Mei hingga Agustus nanti menjadi periode atau musim penyu bertelur. Karenanya, sampai dengan Agustus 2026 mendatang, sarang maupun kolam yang ada pada tempat konservasi itu akan penuh.
Bendesa Adat Yeh Gangga, I Ketut Dolia, mengungkapkan bahwa periode Mei hingga Agustus merupakan siklus tahunan penyu bertelur.
Ia menyebut saat ini intensitas kegiatan di area konservasi yang dikelola desa adat setempat sedang sibuk-sibuknya.
“Sekarang sedang banyak-banyaknya karena sedang musimnya bertelur,” kata Dolia pada Selasa (21/7).
Saking padatnya proses alamiah tersebut, pengelola memutuskan untuk menunda bantuan proses penetasan tukik atau anak penyu hingga pertengahan bulan depan.
Hal ini dilakukan agar momentum pelepasan anak penyu tersebut dapat dilaksanakan secara massal bertepatan dengan peringatan hari kemerdekaan Indonesia.
“Bahkan kami tidak bisa membantu proses penetasan tukik hingga 17 Agustus nanti. Makanya kami berharap pada perayaan HUT RI nanti para murid maupun pengunjung lainnya bisa hadir di Yeh Gangga dalam acara pelepasan tukik,” ungkapnya.
Saat ini, lahan konservasi seluas sekitar dua are tersebut memiliki kapasitas tempat penetasan mencapai 150 sarang.
Dalam satu sarang, jumlah telur yang ditampung bisa menyentuh angka 150 butir dengan tingkat keberhasilan menetas berkisar antara 60 hingga 80 persen. “Ada juga yang sembuuk (busuk),” imbuh Dolia.
Sesuai aturan pemerintah, tukik yang sudah menetas harus segera dilepaskan ke laut lepas paling lambat satu minggu setelah mereka mampu makan secara mandiri.
Selama berada di penangkaran, anak-anak penyu tersebut diberi asupan protein berupa cincangan ikan tuna maupun cumi-cumi sebagai selingan. “Kalau sudah menetas langsung kami lepas,” tegasnya.
Ia menjelaskan bahwa pelepasan biasanya rutin dilakukan setiap hari Minggu bersama para pengunjung dengan jumlah mencapai 200 hingga 300 ekor sekali lepas.
Meski tidak mewajibkan donasi, kehadiran pengunjung dalam aktivitas pelepasan tukik dinilai sangat penting sebagai sarana promosi daya tarik wisata Pantai Yeh Gangga.
Ke depan, pihak desa adat berencana memperluas area konservasi serta menambah fasilitas pagar dan kolam permanen seperti penangkaran di Benoa atau Serangan.
Fasilitas tambahan tersebut nantinya akan difungsikan sebagai area rehabilitasi bagi penyu yang membutuhkan perawatan akibat cangkangnya yang dihinggapi parasit.
“(Nanti) untuk tempat menangkar penyu yang tidak sengaja tertangkap jaring nelayan atau penyu yang terkena parasit pada cangkangnya,” pungkasnya. (c/kb)

















