Replika Tank dan Pesawat Cureng Kini Lengkapi Taman Perjuangan Singasana

TABANAN, Kilasbali.com – Replika tank dan pesawat tempur Cureng kini melengkapi Taman Perjuangan Singasana di lahan bekas kantor Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Tabanan.
Pada Minggu (28/9) pagi, benda tiruan itu dipasang pakai crane. Bahkan, proses pemasangannya dipantau langsung oleh Bupati Tabanan, I Komang Gede Sanjaya.
Replika itu punya dimensi ukuran yang sama dengan aslinya. Untuk tank memiliki ukuran panjang delapan meter, lebar tiga meter, dan tinggi dua setengah meter.
Sedangkan, untuk replika pesawat Cureng memiliki panjang dan lebar yang sama yakni tujuh meteran.
Keduanya terpasang pada pedestal atau dasar patung yang sudah dibangun sebelumnya. Replika tank di bagian bawah, sedangkan pesawat tempur di bagian atasnya. Seolah terbang.
Di sekelilingnya ada patung para prajurit yang terlihat sedang perang. Patung-patung prajurit itu sudah dipasang lebih dulu pada beberapa bulan lalu.
“Hari ini kami menancapkan (replika) pesawat (tempur) Cureng (dan tank) kalau zaman dulu. Pagi tadi sudah dipasang,” kata Sanjaya.
Ia menyebutkan, pemasangan replika tank dan pesawat tempur itu untuk memperkuat konsep tematik dari Taman Perjuangan Singasana.
Terlebih keberadaan Taman Perjuangan Singasana dekat dengan tugu atau patung Debes dan Wagin serta Taman Makam Pahlawan (TMP) Pancaka Tirta yang lebih awal sudah ada.
Sehingga, ketiganya yakni patung Debes dan Wagimin, TMP Pancaka Tirta, dan Taman Perjuangan Singasana menjadi satu kesatuan kawasan.
“Ini menjadi simbol bahwa masyarakat Tabanan (di masa lalu) merupakan masyarakat yang heroik,” imbuhnya.
Ia berharap, keberadaan Taman Perjuanagan Singasana bisa dimanfaatkan masyarakat sebagai tempat publik di Tabanan.
Bahkan, ke depannya pihaknya masih ingin menyempurnakan Taman Perjuanagan Singasana dengan adanya bangunan cafetaria dengan eksterior kapal Pinisi.
Hanya saja, rencana penyempurnaan itu masih dalam proses pembahasan untuk dibuat secara detil meski secara konsep sudah ada.
Dengan sudah terpasangnya dua replika itu, perkembangan pembangunan Taman Perjuangan Singasana hampir mendekati seratus persen.
“Sembilan puluh sembilan koma sembilan,” kata Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan Rakyat, Penataan Kawasan, dan Permukiman I Made Dedy Darmasaputra.
Ke depannya, sambung Dedy, pihaknya tinggal memeriksa volume pekerjaan yang dirasa perlu disesuaikan dengan kontrak.
Menurut Dedy, sesuai konsep di awal, Taman Perjuangan Singasana akan dilengkapi dengan tank, pesawat tempur, dan kapal sejenis pinisi.
“Jadi tiga matra. Darat, laut, dan udara. Sekarang yang baru terpasang matra darat (tank) dan udara (pesawat tempur),” jelasnya.
Ke depan, sambungnya, matra laut akan diwakilkan dengan kapal pinisi namun bisa berfungsi sebagai cafetaria bagi masyarakat. Terutama anak-anak muda yang ingin tempat nongkrong.
Hanya saja, pembangunan cafetaria dengan eksterior menyerupai kapal Pinisi itu belum akan dilaksanakan dalam waktu dekat ini. Demikian juga pada 2026 mendatang.
“Break (jeda) dulu sementara. Nanti itu sekaligus dengan program revitalisasi Pasar Taman Sari (di barat Taman Perjuangan Singasana),” pungkasnya.
Secara konsep, sambung Dedy, keberadaan Taman Perjuangan Singasana ini diharapkan bukan sekadar menjadi tempat publik atau nongkrong semata.
“Target utamanya sebetulnya anak-anak muda biar paham dengan sejarah yang terjadi di Tabanan di masa lalu. Kenapa ada TMP Pancaka Tirta? Terus ada Puputan Margarana,” ujarnya.
Dedy menyebutkan, karena kapal Pinisi belum terbangun saat ini, maka Taman Perjuangan Singasana akan melalui soft launching bertepatan dengan momen HUT Kota Singasana pada November 2025.
“Akan soft launching ya. Kalau launching mesti menunggu kapal Pinisi. Jadi soft launching rencananya pada November 2025. Pas di momen HUT Kota (Singasana),” pungkasnya. (c/kb)

















