
TABANAN, Kilasbali.com – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Tabanan menerjunkan tim untuk mengevaluasi dan memetakan penyebab tidak beroperasinya 12 unit Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R).
Pemetaan khusus tersebut dilakukan lantaran hampir sepertiga dari total 44 unit TPS3R yang tersebar di wilayah Tabanan saat ini dalam kondisi terhenti operasionalnya.
Hasil evaluasinya beragam. Ada yang terkendala tata kelola manajerial, teknis operasional, hingga kelengkapan sarana pendukung.
Kepala DLH Tabanan I Made Surya Dharma menegaskan pentingnya peninjauan fisik secara rinci ke setiap lokasi guna mengidentifikasi akar persoalan utama di lapangan.
“Kami perlu melihat kondisi masing-masing TPS3R secara langsung. Dari sana akan diketahui apakah persoalannya menyangkut pengelolaan, operasional, fasilitas, atau faktor lainnya,” ujar Surya Dharma pada Senin (5/10).
Sejauh ini, sebanyak 32 unit TPS3R di Tabanan tercatat masih aktif mengolah limbah rumah tangga maupun area komersial sebelum dibuang ke tempat pemrosesan akhir.
DLH menekankan bahwa keberadaan sarana tersebut tidak boleh sekadar menjadi bangunan fisik tanpa memberikan dampak pengurangan volume sampah secara konsisten.
Hasil pemetaan menyeluruh nantinya akan dijadikan pijakan utama bagi pemerintah daerah dalam merumuskan bentuk intervensi maupun bantuan pembenahan.
“Setelah kondisi dan kendalanya terpetakan, kami bisa menentukan langkah yang paling sesuai. Tidak semua TPS3R tentu membutuhkan penanganan yang sama,” katanya.
Salah satu wacana yang kini tengah dikaji yakni mengubah fungsi fasilitas yang sulit dipulihkan menjadi titik penampungan sementara atau dropping point.
Sementara itu, keberlanjutan operasional 32 unit TPS3R yang masih aktif saat ini ditopang melalui penarikan iuran secara rutin dari para pelanggan rumah tangga dan pelaku usaha lokal.
Besarnya potensi pemilahan dari sumber tercermin pada kinerja TPS3R Sadu Kencana di Desa Dauh Peken, Kecamatan Tabanan.
Sepanjang Januari hingga Agustus 2026, unit pengolahan tersebut sukses memilah 449,8 ton sampah yang bersumber dari 609 pelanggan, empat rumah sakit, serta sepuluh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Surya Dharma menilai capaian pengolahan ratusan ton limbah di Desa Dauh Peken menjadi bukti nyata bahwa keberadaan TPS3R sangat efektif memangkas beban pemrosesan akhir jika dikelola secara teratur.
“Angka pengelolaan di TPS3R Sadu Kencana menunjukkan bahwa ketika sistem berjalan, jumlah sampah yang bisa ditangani dari sumber cukup besar,” ungkapnya.
Untuk memastikan keberlanjutan sistem pengolahan berbasis komunitas tersebut, DLH Tabanan juga bakal menguji ulang kelayakan seluruh sarana prasarana penunjang di 44 lokasi.
Pendataan fisik tersebut ditujukan untuk memetakan prioritas bantuan alat kerja dan fasilitas pendukung.
“Kami akan melakukan pendataan ulang sehingga memiliki gambaran yang lebih lengkap mengenai kondisi setiap TPS3R. Dengan data itu, pembinaan dan penanganannya bisa lebih tepat,” pungkas Surya Dharma. (c/kb)

















