‘Open Border’, Rahayuni: Tonggak Kebangkitan Pariwisata Bali

‘Open border’ Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai untuk penerbangan internasional pada Kamis, 14 Oktober 2021 menjadi angin segar bagi masyarakat Bali yang mengandalkan perekonomian dari sektor pariwisata. Karena sektor ini ‘mati suri’ akibat mewabahnya virus corona yang diketahui masuk ke Pulau Dewata di medio Maret 2020.
TABANAN, Kilasbali.com – Dengan ‘open border’ ini, diharapkan perekonomian Bali bisa bangkit kembali. Kendati tak seramai seperti sebelum pandemi Covid-19, paling tidak terjadi pergerakan ekonomi sembari menunggu ‘badai’ ini berlalu.
Anggota Fraksi PDIP Tabanan, Ni Made Rahayuni, menyambut gembira ‘open border’ yang diperjuangkan Guhernur Bali, Wayan Koster. Karena hampir dua tahun perekonomian Bali sangat terpuruk akibat mewabahnya SARS-CoV-2 ini.
Dia menuturkan, sebelum pandemi di tahun 2019, Dinas Pariwisata Provinsi Bali mencatat, wisatawan mancanegara ke Bali mencapai 6.275.210 orang.
Namun di tahun 2020, hanya 1.050.504 orang. Penurunan terlihat sejak corona mewabah pada bulan Maret. Pada bulan Januari di tahun 2020 jumlah wisman sempat membaik yakni sebanyak 528.883 orang.
Kemudian tanda-tanda penurunan mulai terlihat di bulan Februari menjadi 363.937 orang, Maret 156.876 orang, April 327 orang, dan bulan berikutnya turun drastis menjadi dua digit di bawah 100 orang per bulan hingga akhir tahun 2020.
Begitupula di masa PPKM di tahun 2021. Tercatat sejak Januari hingga Agustus tahun ini, kunjungan wisman hanya 43 orang. Tentunya, hal itu menyebabkan para pelaku wisata haru menkencangkan ‘ikat pinggang’ dan menyingsingkan ‘lengan baju’. Beralih profesi menunggu ‘badai’ berlalu.
“Kebijakan ‘open border’ ini menjadi tonggak sejarah kebangkitan Bali di tengah masih mewabahnya virus corona ini,” ujar anggota Komisi IV DPRD Tabanan ini kepada Kilabsali.com, Jumat (15/10/2021).

Perempuan berparas ayu ini mengajak seluruh masyarakat menyambut ‘open border’ ini tidak terlalu berlebihan, yang memicu abai dengan protokol kesehatan (prokes).
Pihaknya mengajak mentaati dan melaksanakan protokol kesehatan dan menerapkan pola hidup sehat serta bebas Covid-19 dengan 6M. Yaitu memakai masker standar dengan benar, mencuci tangan, menjaga jarak, mengurangi bepergian, meningkatkan imun, dan mentaati aturan.
“Sebagai showchase Indonesia, Bali menjadi daerah percontohan sehingga kebijakan ‘open border’ dilakukan secara hati-hati agar tidak memicu klaster baru,” jelasnya.
Dia menegaskan, keselamatan masyarakat Bali menjadi prioritas dan hal utama, sehingga pembukaan pariwisata ini dilakukan ekstra hati-hati dengan berbagai kebijakan dalam menyambut wisatawan. Salah satunya wajib karantina lima hari bagi wisatawan mancanegara.
Lanjutnya, kebijakan ini dipertimbangkan dengan sangat matang, sehingga negara yang diperbolehkan masuk ke Pulau Dewata, yakni yang memiliki risiko Covid-19 rendah di level 1 dan level 2, positif rate kurang dari 5% sesuai standar WHO, dan menerapkan kebijakan sama-sama membuka (prinsip timbal balik/reciprocal).
Diputuskan sebanyak 19 Negara diperbolehkan masuk ke Bali, yaitu: Saudi Arabia, United Arab Emirates, Selandia Baru, Kuwait Bahrain, Qatar, China, India, Jepang, Korea Selatan, Liechtenstein, Italia, Prancis, Portugal, Spanyol, Swedia, Polandia, Hungaria, dan Norwegia.
Pihaknya berharap, dengan dibukanya bandara untuk penerbangan internasional ini, bisa membangkitkan pariwisata Bali kembali sehingga perekonomian Bali bisa bangkit kembali.
“Terutama di Kabupaten Tabanan, salah satu PAD tertinggi dari sektor pariwisata bisa bangkit kembali. Selain itu juga membuka peluang lapangan pekerjaan di dunia pariwisata. Di mana Tabanan memiliki DTW Tanah Lot, Ulun Danu Beratan, Bedugul, Jatiluwih, semoga bisa kunjungan wisatawan ke DTW tersebut bangkit lagi,” harapnya. (jus/kb)

















