Kunjungan Wisatawan Asing ke Ulundanu Beratan Terdongkrak Konflik Thailand-Kamboja

TABANAN, Kilasbali.com – Kunjungan wisatawan asing ke Ulundanu Beratan, Desa Candikuning, Kecamatan Baturiti, dalam beberapa waktu terakhir ini cenderung meningkat.
Situasi regional di Asia Tenggara yang diwarnai dengan konlik perbatasan antara Thailand dan Kamboja dan berujung dengan perang menjadi salah satu pemicunya.
Konflik itu membuat arus kunjungan wisatawan asing yang selama ini banyak mengarah ke Thailand, sebagian di antaranya beralih ke Bali.
Ini seperti diungkapkan Humas Manajemen Daya Tarik Wisata (DTW) Ulundanu Beratan, I Made Sukarata, di sela penutupan Parade Gebogan dan Pentas Budaya 2025, Minggu (10/8).
“Seperti yang kami dengar dari beberapa pelaku agen perjalanan wisata, beberapa ada (wisatawan asing) yang bergeser dari Thailand ke Bali,” kata Sukarata.
Ia menyebutkan, saat ini kunjungan wisatawan di Ulundanu Beratan yang sebelumnya berada di kisaran tujuh ratus orang per hari sudah mencapai sekitar 1.500 orang per hari.
Peningkatan kunjungan ini secara khusus terjadi selama pelaksanaan Parade Gebogan dan Pentas Budaya selama sebulan di Ulundanu Beratan dan The Blooms Garden.
“Kunjungan wisatawan asing sebelumnya di kisaran tujuh ratus orang per hari, sekarang sudah sekitar 1.500 orang per hari sejak ada parade ini,” ujarnya.
Kondisi yang sama juga terjadi pada objek wisata The Blooms Garden yang masih berada di bawah satu manajemen dengan Ulundanu Beratan.
“Di The Blooms Garden juga begitu. Tadinya sekitar lima puluhan orang, sekarang sudah sekitar seratusan orang,” imbuhnya.
Saat ini, sambungnya, wisatawan asing yang mendominasi kebanyakan berasal dari Benua Eropa. “Sepanjang Juni 2025 kemarin masih India, sekarang sudah Eropa,” jelas Sukarata.
Pihaknya sempat membuat survei sederhana terkait pelaksanaan Parade Gebogan dan Pentas Budaya. Respon beberapa wisatawan asing rata-rata antusias.
“Karena saat berwisata, mereka dapat momen melihat parade gebogan dan pementasan fragmentari,” ungkapnya.
Menurutnya, beberapa wisatawan asing bahkan bertanya apakah pelaksanaan parade gebogan dan pentas budaya tersebut dilaksanakan secara reguler setiap tahunnya.
“Beberapa ada yang tanya apakah ada kalender event. Kami sampaikan bahwa parade ini rutin dilaksanakan setiap tahun. Ini artinya mereka perlu informasi sebagai referensi liburan di tahun depan,” ujar Sukarata menyimpulkan.
Usai pelaksanaan Parade Gebogan dan Pentas Budaya 2025, pihaknya juga akan mempersiapkan pelaksanaan kegiatan budaya serupa untuk di akhir tahun nanti.
Salah satunya yang sedang disiapkan secara matang adalah pembuatan tari ikon di masing-masing desa adat yang tergabung dalam Gebog Satakan.
“Misalnya seperti tadi, Desa Candi Kuning dengan Tari Candi Mas yang secara sejarah memang ada kaitannya dengan Pura Ulundanu Beratan dan keberadaan Candi Mas di sini,” jelasnya.
Pihak manajemen berupaya mendorong masing-masing desa adat untuk membuat kreasi serupa yang ikonik dan diharapkan bisa dipentaskan saat akhir 2025 mendatang. (c/kb)

















