Metode Controlled Landfill di TPA Mandung Capai 70 Persen, Diklaim Efektif Cegah Potensi Kebakaran

TABANAN, Kilasbali.com – Penerapan metode pengurugan secara terkendali (controlled landfill) di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Mandung, Desa Sembung Gede, Kecamatan Kerambitan, perkembangannya sudah mencapai 70 persen.
Upaya ini dipercepat pelaksanaannya untuk memenuhi ketentuan peralihan metode penanganan sampah dari open dumping (penimbunan) menjadi controlled landfill yang harus diterapkan di TPA Mandung.
Tidak hanya itu, metode ini juga dipandang efektif untuk mencegah potensi kebakaran akibat kandungan gas metan di bawah tumpukan sampah yang masih efektif. Terlebih saat ini sedang musim kemarau panjang.
Kondisi cuaca panas kering selama musim kemarau meningkatkan risiko munculnya titik api di dasar gunungan sampah.
Untuk itu, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Tabanan mempercepat penutupan tumpukan sampah menggunakan lapisan tanah guna mengurangi paparan oksigen.
Seperti diungkapkan Kepala DLH Tabanan, I Made Surya Darma, metode penimbunan tanah harian jauh lebih efektif ketimbang sekadar menyiram air.
Menurutnya, timbunan sampah yang ditutup dengan tanah akan meredam bara api sebelum sempat meluas menjadi kebakaran besar.
“Yang paling bagus itu dengan pengurugan. Hanya pengurugan yang rutin kita lakukan,” ujar Surya Darma pada Selasa (25/8).
Pihak DLH Tabanan menyesuaikan frekuensi pengurugan tanah secara dinamis berdasarkan volume timbunan sampah baru yang masuk ke area pembuangan.
Jika volume harian dinilai sudah padat, pengerahan alat berat dan truk tanah urug akan langsung ditambah. “Kalau volumenya sudah sesuai, kami lakukan dua kali seminggu,” jelasnya.
DLH Tabanan sengaja membatasi opsi penyiraman air secara membabi buta karena justru berisiko menyulitkan penanganan sampah jika dilakukan tanpa perhitungan matang.
Kendati demikian, armada tangki darurat tetap disiagakan penuh di lokasi untuk mengantisipasi potensi darurat akibat cuaca ekstrem kemarau.
“Untuk pemadaman kita siaga, tangki air dan pompa ada. Tetapi kalau disiram, nanti ada kondisi tertentu. Jadi yang rutin kita lakukan adalah pengurugan,” katanya.
Konsentrasi pengurugan tanah saat ini diprioritaskan pada bagian timur kawasan TPA yang dinilai paling riskan karena memiliki banyak rongga udara terbuka.
Celah-celah longgar ini menjadi fokus pengawasan intensif petugas agar tidak memicu kebakaran yang dapat mengancam keselamatan warga.
“Kami DLH Tabanan berharap risiko kebakaran di TPA Mandung dapat ditekan. Penanganan pengurugan tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya menjaga keamanan operasional TPA dan lingkungan di sekitarnya,” pungkas mantan Camat Kediri ini. (c/kb)

















