
GIANYAR, Kilasbali.com — Sthala Ubud Village Jazz Festival (UVJF) 2026 resmi berakhir, Sabtu (8/8), di STHALA Ubud Bali, A Tribute Portfolio Hotel, menutup dua hari perhelatan jazz untuk edisi ke-13 festival ini.
Malam penutupan itu menyusul malam pembukaan yang dimeriahkan oleh Salamander Big Band dan diperkaya oleh pameran seni pop-up pertama dalam sejarah festival. Panitia UVJF melaporkan jumlah pengunjung pada malam penutupan semalam lebih tinggi dibandingkan malam pembukaan — pertanda antusiasme yang terus tumbuh hingga akhir festival.
Sepanjang Sabtu petang hingga malam kemarin, hari kedua festival menghadirkan sepuluh penampilan yang bergantian mengisi Giri Stage dan Subak Stage, dimulai pukul 16.30 WITA dengan Westside Vinyl DeeJays di Community Stage dan JZ.KA Trio membuka Subak Stage. Line-up malam itu juga menampilkan Koko Harsoe & SAN Trio, Watchdog dari Prancis, Pong Nakornchai Ensemble, Dodot Trio, hingga String Corner Project, sebelum festival resmi ditutup oleh H ZETTRIO, Jadi Peperzak Quartet, dan Salamander Big Band menjelang tengah malam.
Sepanjang dua hari penyelenggaraan, pertunjukan berlangsung di tiga area panggung yang saling terhubung: Giri Stage, Subak Stage yang terletak di tepi sungai dengan latar pepohonan beringin dan bebatuan, serta Community Stage, tempat Westside Vinyl DeeJays menghidupkan sesi DJ set vinyl berpadu nuansa jazz sepanjang sore di kedua hari festival.
Salah satu benang merah yang mengikat festival tahun ini adalah regenerasi. Membuka Subak Stage pada malam penutupan itu, JZ.KA Trio — Putu Angelika (piano, vokal), Jesse Adiputra (drum), dan Samuel Pardosi (kontra bas) — tampil sebagai wajah generasi Z dalam skena jazz Bali, memadukan energi jazz vokal romantis dengan kematangan musikal yang melampaui usia mereka. Bersama Rason Trio yang tampil di malam pembukaan di bawah kepemimpinan gitaris muda Rason Wardjojo, JZ.KA Trio menjadi bagian dari program “preservation of Jazzistry”, komitmen UVJF untuk terus membuka panggung bagi musisi muda Indonesia berbakat.
“Aku senang bisa belajar musik jazz. Aku jatuh cinta dengan jazz, dan rasanya masih banyak sekali yang bisa aku pelajari darinya,” kata Putu Angelika, vokalis sekaligus pianis JZ.KA Trio, mengenang pengalamannya tampil di UVJF 2026.
Di ujung spektrum yang lain, Dodot Trio menghadirkan pianis Dodot Atmojo, sosok yang telah mengisi skena jazz Bali selama lebih dari empat dekade, bersama Helmy Agustrian (kontra bas) dan Wisnu Priambodo (drum). Tampil membawakan karya-karya dari album perdananya, The Story of White Piano, trio ini menjadi pengingat bahwa di panggung yang sama, generasi termuda dan musisi senior Bali bertemu dalam bahasa yang sama: jazz sebagai percakapan yang terus hidup.
Malam penutupan semalam juga menegaskan karakter internasional UVJF. Watchdog, duo asal Prancis yang terdiri dari Anne Quillier (piano, keyboard, Moog, vokal) dan Pierre Horckmans (klarinet bas), membawakan komposisi dari album terbaru mereka, Fables, dengan dukungan AJC (Association Jazzé Croisé) dan Institut Français Indonésie. Pong Nakornchai Ensemble mempertemukan drummer Thailand Pong Nakornchai, bassist Indonesia Indra Gupta, dan gitaris Michael Ananda Aartsen dalam komposisi saksofonis Amerika Joe Rosenberg. Sementara itu, Jadi Peperzak Quartet — dipimpin gitaris Belanda Jadi Peperzak bersama pianis Indonesia Kasyfi Kalyasyena, bassist Nepal Sulav Maharjan, dan drummer Belanda Rafael Slors — membawakan materi dari album debut mereka, Amity, yang terinspirasi antara lain oleh Pat Metheny, Kurt Rosenwinkel, Wayne Shorter, dan Herbie Hancock, dengan dukungan Erasmus Huis Jakarta..
H ZETTRIO, trio instrumental asal Jepang yang dikenal lewat hidung berwarna khas mereka — biru untuk pianis H ZETT M, merah untuk bassist H ZETT NIRE, dan perak untuk drummer H ZETT KOU — tampil di Giri Stage semalam membawakan materi dari album terbaru mereka, QUESTUNE, setelah sebelumnya tampil di Montreux Jazz Festival. String Corner Project turut mengisi Subak Stage dengan perpaduan gitar flamenco, improvisasi jazz, dan ritme Nusantara melalui kolaborasi gitaris Adien Fazmail dan Icang Rahimy. Festival kemudian resmi ditutup oleh Salamander Big Band di Giri Stage menjelang tengah malam
Sepanjang dua hari festival, pameran seni “Second Life” oleh kolektif Kala Patha — menampilkan karya delapan seniman yang mengangkat isu daur ulang dan keberlanjutan — dapat disaksikan secara gratis pukul 13.00–15.00 WITA setiap harinya di area STHALA. Stasiun pengisian daya bertenaga surya hasil kerja sama dengan InfiSolar di sepanjang area booth Community Stage turut menjadi bagian dari inisiatif keberlanjutan festival tahun ini.
Panitia turut mengumumkan bahwa Ubud Village Jazz Festival akan kembali digelar pada 6–7 Agustus 2027 di STHALA Ubud Bali. (Jus/kb)

















