Tingkat Pengangguran di Tabanan Turun Jadi 1,58 Persen di 2025

TABANAN, Kilasbali.com – Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Kabupaten Tabanan mencatatkan perbaikan signifikan dengan turun ke angka 1,58 persen pada 2025.
Sebelumnya, tingkat TPT di Tabanan berada di posisi 1,85 persen sepanjang 2024.
Tren positif ini menunjukkan adanya peningkatan penyerapan tenaga kerja di wilayah yang mengandalkan sektor pertanian dan UMKM tersebut.
Data yang dipaparkan dalam Musrenbang RKPD Semesta Berencana Kabupaten Tabanan 2027 pada Selasa (31/3) menunjukkan angka pengangguran Tabanan kini hampir setara dengan Kabupaten Badung yang berada di posisi 1,57 persen.
Meski demikian, capaian TPT di Tabanan ini tercatat masih berada di atas rata-rata Provinsi Bali yang sebesar 1,49 persen.
Kepala Bappeda Provinsi Bali, I Wayan Wiasthana Ika Putra, menjelaskan bahwa dominasi sektor informal masih menjadi karakteristik utama lapangan kerja di wilayah lumbung beras ini.
Pihaknya mendorong adanya penguatan produktivitas agar stabilitas ekonomi tetap terjaga di tengah tantangan diversifikasi ekonomi.
“Di Tabanan, struktur ekonomi yang didominasi sektor pertanian, UMKM, dan sektor penunjang pariwisata dinilai mampu menjaga stabilitas lapangan kerja,” ungkapnya.
Meski demikian, ia menyebutkan bahwa sebagian besar pekerjaan masih berada pada sektor informal.
“Sehingga perlu penguatan pada peningkatan kualitas dan produktivitas tenaga kerja,” imbuhnya.
Menanggapi data itu, Bupati Tabanan, I Komang Gede Sanjaya, menilai penurunan angka pengangguran merupakan sinyal kuat adanya perbaikan ekonomi daerah.
Ia menekankan bahwa capaian tersebut merupakan hasil dari upaya kolektif dalam memperluas lapangan pekerjaan di berbagai lini.
“Jika dibandingkan tahun 2024 yang berada di angka 1,85 persen, TPT Tabanan tahun 2025 turun menjadi 1,58 persen. Ini menunjukkan adanya perbaikan dalam penyerapan tenaga kerja di daerah,” ujar Sanjaya pada Sabtu (4/4).
Ia menegaskan, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tabanan berkomitmen untuk tidak hanya mengejar penurunan angka secara statistik, melainkan juga memastikan tenaga kerja lokal memiliki daya saing yang tinggi.
Fokus ke depan akan diarahkan pada penguatan sektor pertanian modern dan ekonomi kreatif sebagai pembuka peluang kerja baru yang lebih berkualitas.
“Kami tidak hanya fokus pada penurunan angka pengangguran, tetapi juga peningkatan kualitas dan produktivitas tenaga kerja agar mampu bersaing di berbagai sektor, baik lokal maupun nasional,” pungkas Sanjaya. (c/kb)

















