
TABANAN, Kilasbali.com – Dinas Pertanian (Distan) Tabanan mulai mengaktifkan kembali kelompok buruh tani tradisional atau sekaa manyi untuk mengatasi krisis tenaga kerja saat musim panen tiba.
Upaya ini dilakukan karena minimnya buruh lokal untuk keperluan musim panen sehingga banyak petani menggunakan tenaga dari luar Bali yang memicu pembengkakan biaya produksi.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertanian (Plt Kepala Distan) Tabanan, I Made Subagia, mengakui masalah kelangkaan buruh panen masih menjadi kendala serius di wilayahnya.
Kelompok sekaa manyi yang dulunya eksis di setiap subak, kini mulai tidak aktif dalam tiga tahun terakhir.
“Kami berniat untuk mengaktifkan atau menghidup kembali. Minimal ketika kekurangan tenaga (buruh) saat panen, maka sekaa manyi membantu dari sisi tenaga,” ujar Subagia, Sabtu (31/1).
Subagia menjelaskan bahwa sekaa manyi merupakan lembaga resmi di bawah naungan subak yang bertugas memanen padi menggunakan alat tradisional.
Namun, seiring berjalannya waktu, keberadaan mereka mulai meredup dan perannya tergantikan oleh tenaga borongan dari luar daerah.
Meskipun sebagian besar tidak aktif, beberapa wilayah seperti Subak Aseman 4 di Selemadeg Timur dilaporkan masih mempertahankan kelompok ini.
Namun, kelompok yang tersisa kini membutuhkan dukungan sarana pertanian modern berupa alat power thresher untuk menunjang efektivitas kerja di lapangan.
Distan Tabanan menyadari bahwa menghidupkan kembali tradisi ini membutuhkan waktu, terutama dalam mengubah pola pikir petani yang sudah terbiasa dengan sistem borongan.
Sebagai langkah awal, pemerintah daerah tengah menyiapkan proyek percontohan agar Sekaa Manyi bisa kembali aktif di berbagai subak lainnya. (c/kb).

















