Kolaborasi Inspirasi Inovatif Momentum Penutupan BFT 2025

GIANYAR, Kilasbali.com – Hari penutupan Bali Fashion Trend (BFT) 2025, Minggu (21/12), berlangsung istimewa sebagai puncak ragam karya desainer nasional dan internasional.
Perayaan mode berskala internasional yang berlangsung di Onyx Park Resort, Ubud inipun menjadi momentum kolaborasi inspirasi inovatif.
Menarik dari mahasiswa Program Studi Desain Mode ISI Bali yang dengan bangga menampilkan koleksi Ready to Wear Deluxe bertajuk “12.03.12” dengan tema besar Diversity of Indonesia.
Koleksi ini menandai perjalanan Program Studi Desain Mode ISI Bali yang berdiri pada 12 Maret 2012, sekaligus menjadi simbol kesinambungan antara tradisi dan inovasi.
Sebanyak 16 tampilan womens wear dan mens wear diperagakan dengan pendekatan desain urban kontemporer.
Unsur budaya Nusantara tidak dihadirkan secara literal, melainkan melalui reinterpretasi motif, struktur, dan filosofi yang diolah modern. Koleksi ini menyampaikan pesan bahwa keberagaman merupakan kekuatan utama bangsa yang terus relevan untuk dibaca ulang sesuai perkembangan zaman.
Paling mencolok adalah Korelasi fashion, manusia kondisi alam sangat erat oleh De Irma seorang desainer busana muslimah asal Padang. Di hajatan ini, karyanya justru merespons kehancuran alam tersebut sebagai bentuk refleksi sekaligus perlawanan.
De Irma meluapkan kegairahan berkarya mode sambil mengekpresikan kondisi alam khususnya hutan Sumatera yang kini menjustifikasi manusia. Seakan menterjemahkan alam sedang menagih tanggung jawab untuk mengembalikan atas apa yang telah diambil dari Ibu Pertiwi itu..
Dari paparan De Irma, kali ini menghadirkan sebuah pernyataan mode yang berangkat dari realitas pahit kerusakan lingkungan di Indonesia. Koleksi ini terinspirasi oleh perampasan ruang hidup satwa liar dan pembabatan hutan secara masif yang terjadi di kawasan Taman Nasional Tesso Nilo, di mana ribuan hektar hutan telah dialihfungsikan menjadi perkebunan kelapa sawit. Dampak dari perusakan ini tidak hanya berupa banjir bandang dan
bencana ekologis yang meluas, tetapi juga hilangnya rumah bagi berbagai satwa, termasuk gajah Sumatra.
Melalui medium fashion, De Irma merespons kehancuran alam tersebut sebagai bentuk refleksi sekaligus perlawanan.
“Koleksi ini mengusung ready-to-wear street wear, dengan eksplorasi mix and match inner–outer, permainan top button, serta siluet yang terinspirasi dari bentuk kehancuran dan ketidakteraturan alam pasca-deforestasi,” terangnya.
Outputnya, potongan busana dirancang tidak simetris, dengan detail unfinished yang disengaja sebagai simbol kerusakan, kehilangan, dan luka yang ditinggalkan.
Palet warna koleksi didominasi oleh nuansa forest tone dan warna-warna gajah, merepresentasikan hutan yang kian memudar serta satwa yang terdesak dari habitatnya.
Sebagai wujud penghormatan terhadap kearifan lokal, koleksi ini juga mengangkat Tenun Kubang dari Sumatera Barat, memadukan nilai tradisi dengan konteks urban kontemporer.
“Fashion show ini bukan sekadar pertunjukan estetika, melainkan ajakan untuk menyadari bahwa krisis lingkungan adalah kenyataan yang sedang berlangsung,” ungkapnya.
Sementara Desainer Fomalhaut Zamel mengaku senang dapat terlibat dalam BFT 2025 yang dinilainya memiliki peran strategis dan pengaruh besar dalam perkembangan tren fashion Indonesia.
Bali Fashion Trend 2025 sendiri digelar oleh Indonesian Fashion Chamber (IFC) Denpasar Chapter bekerja sama dengan Onyx Park Resort, mengusung tema besar “Beyond Beauty”.
Ajang ini tidak hanya menampilkan estetika mode, tetapi juga nilai budaya, keberlanjutan, serta kolaborasi lintas sektor. Lebih dari 105 desainer nasional dan internasional, termasuk dari Malaysia, Italia, dan Iran, turut ambil bagian.
Ketua Panitia BFT 2025, Neli Gunawan, menegaskan BFT bukan sekadar fashion show, melainkan ekosistem yang mempertemukan kreativitas, budaya, dan industri. Dengan berakhirnya BFT 2025, Bali kembali menegaskan diri sebagai ruang temu strategis bagi karya mode Indonesia untuk melangkah ke pasar global. (Ina/kb)

















