Genjot Ekonomi Kerakyatan, ‘Cuan’ Menggiurkan, Minim Resiko Kerugian

BULELENG, Kilasbali.com – Fraksi Partai Golkar (Golongan Karya) DPRD Kabupaten Buleleng turun menemui salah seorang pelaku usaha peternakan ayam di Banjar Kanginan Desa Sawan, Kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng-Bali. Mereka tertarik hingga melirik potensi pengembangan usaha ternak ayam sebagai upaya sukseskan program ketahanan pangan di Buleleng.
Ketua Fraksi Golkar DPRD Buleleng, Ketut Dody Tisna Adi didampingi Putu Suastika selaku Anggota Komisi II mengaku, sengaja turun langsung menimba ilmu kepada pemilik peternakan ayam, Ketut Widiasa.
“Kita (fraksi Golkar) sengaja turun langsung ke lapangan (peternakan ayam) untuk menimba ilmu (belajar). Hasil ini akan kita adopsi sebagai program percontohan. Ya, dari sisi finansial, prospek cuan (keuntungan) per bulannya cukup menggiurkan, bahkan ternyata sangat minim resiko kerugian. Kita akan getok-tularkan menggerakkan ekonomi kerakyatan, sekaligus upaya sukseskan program pusat (Presiden Prabowo Subianto), khususnya ketahanan pangan di Buleleng,” terang Dody.
Ketut Widiasa selaku pemilik peternakan mengungkapkan, ketertarikannya terjun menekuni usaha peternakan ayam jenis Black Magnum dan Joper dimulai pada bulan April 2025 lalu. Permodalan dihandle BumDes Sawan sebesar Rp 7,5 juta.
“Modal pinjaman dari BumDes Rp 7,5 juta. Modal itu dipakai untuk pembuatan kandang, pengadaan bibit, serta pakan. Sementara ini, target market (pemasaran) lokal, memenuhi pesanan ayam banten (sesajen) saja. dimana usia ayam yang dijual berusia berkisar 3 minggu sampai 1 bulan dengan berat per ekor capai 0,6-sampai 0,8 kilogram,” tuturnya.
Alasan menjatuhkan pilihan pada jenis Black Magnum dan Joper sebut Widiasa, lantaran bibit ayam tersebut memiliki ketahanan, kualitas serta banyak diminati pelanggan. Berat bibit ayam per ekornya berkisar 0,1 – 02 kilogram dengan usia bibit ayam baru 2 hari.
“Bibit didatangkan dari jawa. Pemeliharaan dan perawatannya cukup mudah, cocok dengan kondisi suhu disini (Desa Sawan), Kalo bibit ayam Black Magnum corak warnanya brumbun (hitam bercak putih), sementara jenis Joper dominan putih,” jelasnya.
Masih kata dia, keuntungan selaku peternak ayam terbilang menjanjikan. Dimana, dari penjualan 600 ekor ayam Black Magnum dan Joper bisa capai Rp 11 hingga 12 juta.
“Bibit ayam Black Magnum usia 2 hari itu, kita beli seharga Rp 10 ribu per ekornya. Sementara bibit Joper Rp 8,500 per ekornya. Saat ini, kita punya Black Magnum sebanyak 300 ekor, dan Joper 300 ekor. Nah, ketika dijual pada usia 3 minggu atau 1 bulan, per ekor Black Magnum Rp 19 ribu per ekor, sedangkan Joper di usia yang sama Rp 16 sampai 17 ribu per ekornya. Kemudian, pakan ayam habiskan sebanyak 50 kilogram sebulannya dengan estimasi seharga Rp 500 ribu. Jadi, dari proses pengadaan bibit, dan pakan kita mengeluarkan modal kurang lebih Rp 6 juta. Jadi, keuntungan bersih per bulannya bisa capai Rp 4 sampai 4,5 juta. Ya, memang sangat menjanjikan, apalagi kita buka peluang usaha di kampung halaman (rumah sendiri). Sementara ini, sepertinya cukup pelihara 600 ekor saja dulu,” ungkapnya.
Sejatinya, Widiasa ingin mencoba mengembangkan kedua jenis bibit ayam tersebut pakai pola umbaran (dilepasliarkan). Nantinya, target market yang dilirik pelaku usaha resto dan warung makan. Ketertarikan itu muncul, lantaran tekstur daging Black Magnum dan Joper nyaris persis layaknya ayam kampung (lokal).
“Tekstur dagingnya hampir sama dengan ayam kampung. Bahkan jika sudah dalam keadaan bersih potong sulit untuk dibedakan. Teksturnya, kenyal, keset, padat, kandungan airnya sedikit, tidak seperti ayam broiler. Ya, sudah pernah kami coba beberapa ekor Black Magnum. Harga per kilonya tentu beda, dimana kita lempar kepada konsumen Rp 55 sampai Rp 60 ribu per kilogramnya. Pinginnya budidaya Black Magnum sampai usia 1-2 bulan dengan tujuan mengisi market resto dan warung makan. Keyakinan kita, pasti laris, cocok untuk produk ayam bakar atau ayam betutu. Namun, niat itu sementara kita urungkan karena keterbatasan lahan alias belum bisa bikin biaya kandang besar,” pungkasnya. (ard/*KB).

















