
TABANAN, Kilasbali.com – Balai Pengelola Transportasi Darat atau BPTD Kelas II Bali menggelar sosialisasi bahaya kendaraan Odol (Over dimension over load) di sepanjang jalur Denpasar-Gilimanuk pada Senin (24/11).
Kegiatan yang melibatkan jajaran terkait di Tabanan, baik dari pemerintah daerah maupun Polres Tabanan, itu berlangsung di ruas jalan Bypass Ir Soekarno, Desa Dauh Peken, Kecamatan Tabanan.
Dalam kegiatan itu, BPTD Kelas II Bali menyosialisasikan bahaya kendaraan yang mengangkut muatan berlebih karena berisiko membahayakan keselamatan pengendaranya sendiri maupun pengguna jalan lainnya.
Dari hasil pantauan semengtara, secara kasat mata masih banyak kendaraan besar yang mengangkut muatan berlebih dan melampaui dimensi ukuran kendaraan. Bahkan, beberapa di antara kendaraan ditemukan ada yang tidak melalui uji KIR, kendati layanan uji KIR sudah digratiskan.
Terhadap temuan itu, BPTD Kelas II Bali masih dalam tahap memberikan imbauan dan mengedepankan sosialisasi sebagai langkah awal menuju target zero Odol. Pihaknya lebih mengedepankan pemeriksaan ringan dan pemasangan stiker peringatan.
“Kami imbau saja. Kami tidak gunakan sanksi agar ke depannya tidak terjadi Odol lagi. Karena efek (kendaraan) over load itu buka hanya membahayakan diri sendiri, tetapi orang lain di jalan,” jelas Penata Penegakan Hukum dan Diseminasi BPTD Kelas II Bali, Agus Juni Krisnawan.
Ia menyebutkan, kegiatan yang sama juga berlangsung di beberapa wilayah di Provinsi Bali seperti Kota Denpasar dan Terminal Mengwi di Kabupaten Badung.
Kemudian Gilimanuk di Kabupaten Jembrana, Seririt di Kabupaten Buleleng, jalur Denpasar-Karangasem via Goa Lawah di Kabupaten Klungkung.
Ia menambahkan, dampak kendaraan Odol atau yang mengangkut muatan berlebih sudah sering terlihat dari beberapa video di media sosial seperti rem yang tidak berfungsi, laju kendaraan yang oleng, hingga ban yang pecah.
Selain itu, dari hasil pantauan yang dilakukan dalam kegiatan tersebut, pihaknya juga mengamati cara memuat barang tanpa disertai penutup. “Ada muatan yang sampai terbuka dan berisiko jatuh,” imbuhnya.
Pihaknya berharap, dengan kegiatan ini seluruh sopir angkutan barang memiliki kesadaran untuk memperhatikan kapasitas angkut dan dimensi kendaraannya saat mengemudi. Dengan demikian, risiko kecelakaan akibat kendaraan Odol bisa dimiminalkan. (c/kb)

















