
TABANAN, Kilasbali.com – Proses perbaikan jalan Denpasar-Gilimanuk di depan Pasar Bajera diperkirakan sudah mencapai 90 persen lebih. Bahkan bila tidak ada kendala, uji coba secara terbatas akan dilakukan pada Kamis (17/7) malam.
Namun di saat yang sama, warga di Desa Bajera dibuat pusing dengan kondisi jalan di lingkungan mereka yang rusak sejak dipakai sebagai jalur pengalihan. Ini karena ada beberapa kendaraan besar atau tronton yang sempat nyelonong.
Padahal, jalur pengalihan yang memanfaatkan jalan pemukiman di desa itu sudah sejak awal dibatasi hanya untuk kendaraan kecil.
Tak ayal, perangkat desa maupun masyarakat curiga ada oknum yang memanfaatkan keadaan untuk mengambil untung dengan mengizinkan tronton masuk lewat jalur pengalihan tersebut.
Setidaknya, beberapa ruas jalan pemukiman yang rusak sejak adanya pengalihan arus bagi kendaraan kecil itu. Di antaranya, Jalan Surapati, Sandar, Saraswati, Anusapati, Sruti, Srigati, Serma Arda, Serma Watra, dan Dahlia.
Ruas-ruas jalan itu tersebar di beberapa wilayah di lingkungan Desa Bajera seperti Banjar Bajera Kaja, Banjar Saraswati, Banjar Bajera Tengah, Banjar Bajera Kelod, Banjar Bajera Jero, Banjar Bajera Sari.
“Saya tidak bisa terus berjaga sampai jam dua pagi setiap harinya. Tapi saya sempat setop sembilan tronton. Saya minta mundur. Putar balik,” ungkap Perbekel Bajera, I Putu Sukarata, pada Kamis (17/7).
Ia menyebutkan, rata-rata kendaraan besar yang nyelonong masuk ke jalan pemukiman warga itu di atas pukul 01.00 Wita. “Kami memberikan (izin) tidak ada. Mereka mencuri (waktu),” tukasnya.
Karena itu, pihaknya sempat berkoordinasi dengan jajaran Kepolisian untuk membantu menghalau kendaraan-kendaraan besar yang nyelonong tersebut.
“Tapi ada saja yang nyelonong. Saya sendiri sempat kembalikan sembilan tronton. Masak, (kendaraan) sumbu tiga masuk jalan desa. Saya suruh putar balik,” kata Sukarata dengan nada gemas.
Menurutnya, dengan adanya kendaraan-kendaraan besar yang nyelonong tersebut, beberapa ruas jalan di lingkungan desanya hancur. “Semua (jalan) hancur,” bebernya.
Karena itu, ia berharap jalan-jalan desa tersebut mendapatkan perhatian dari Pemerintah setelah perbaikan jalan Denpasar-Gilimanuk, depan Pasar Bajera, selesai.
Menurut Sukarata, pihak Balai Jalan Nasional Jawa Timur-Bali sudah sempat menyepakati untuk melakukan pengkondisian semula terhadap jalan-jalan desa yang mengalami kerusakan tersebut.
“Nanti mereka (Balai) akan koordinasi dengan kabupaten. Mereka akan kembalikan kondisinya. Teknisnya seperti apa, apakah yang hotmix dihotmix, yang beton dibeton, atau kabupaten yang akan hotmix. Saya sudah sempat koordinasi dengan Pak Wakil Bupati (Made Dirga). Katanya, ini skala prioritas,” sebutnya.
Soal adanya oknum yang memanfaatkan kesempatan untuk mencari untung dengan mengizinkan kendaraan-kendaraan besar masuk ke jalan desa, Sukarata menyebut bisa saja terjadi.
“Delapan hari sudah ada yang kami curigai. Tapi kami sudah kerahkan Linmas dan Polisi. Kami minta (mereka) tolong hormati (masyakat Bajera). Kalau tidak mau hormati, kamu kena risikonya sendiri,” tegas Sukarata seraya menyebut oknum-oknum itu dari luar desa.
Dengan kondisi di lingkungannya saat ini, Sukarata meminta pemerintah memperhatikan kondisi jalan-jalan di desanya saat ini.
“Harus ada. Kalau berharap, itu bisa iya bisa tidak (ada). Kami berikan (jalan pengalihan) ini juga dengan pertimbangan kelancaran ekonomi Bali. Bukan Bajera saja,” tukasnya.
Soal perbaikan jalan yang menjadi rute pengalihan di sekitar Desa Bajera, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) dari Satuan Kerja Pelaksanaan Jalan Nasional Wilayah Provinsi Bali, Pramono Tri Yulianto menyebutkan bahwa pihaknya akan melakukan pengembalian kondisi.
“Ada beberapa jalan yang dipakai alternatif (pengalihan). Itu kami akan kembalikan kondisinya seperti semula. Ada yang jebol, nanti kami patching (tambal) kembali,” jelas Pramono yang dijumpai di sela proses pelapisan badan jalan Denpasar-Gilimanuk, depan Pasar Bajera.
Ia menyebutkan, pihaknya sudah melakukan survei terkait kepentingan itu. Dari hasil survei itu, beberapa ruas jalan ada yang menggunakan beton, hotmix, dan sebagiannya lagi menggunakan paving.
“Itu akan kami kembalikan kondisinya,” sebut Pramono seraya menyebutkan bahwa proses pengembalian kondisi jalan-jalan sekitar itu baru akan dilakukan setelah perbaikan di jalur utama selesai. (c/kb).

















