Bali Tourism Run Jadi Kegiatan Utama Festival Jatiluwih VII Biar Bisa Pancing Crowd

TABANAN, Kilasbali.com – Manajemen Daya Tarik Wisata (DTW) Jatiluwih sengaja menggelar ajang lari Bali Tourism Run dalam Festival Jatiluwih VII untuk memancing keramaian (crowd) wisatawan lokal dan domestik.
Strategi ini diambil karena menarik minat massa melalui ajang olahraga dinilai jauh lebih efektif dan mudah dilakukan dibandingkan metode promosi lainnya.
Manajer DTW Jatiluwih, I Ketut Purna, mengakui bahwa selama ini angka kunjungan pelancong domestik ke wilayahnya masih tergolong rendah.
Oleh sebab itu, festival tahun ini dikonsepkan sebagai kegiatan berskala nasional untuk mendongkrak popularitas objek wisata yang mengandalkan panorama persawahan tersebut.
“Kami ingin memancing crowd masyarakat lokal dan domestik ke Jatiluwih,” ujar Purna usai pembukaan Festival Jatiluwih VII pada Sabtu (20/6).
Festival yang rutin digelar setiap tahun tersebut dibuka secara resmi oleh Bupati Tabanan, I Komang Gede Sanjaya. Pembukaan diisi dengan atraksi seni dan budaya.
Purna menilai tren olahraga lari saat ini menjadi peluang emas bagi pengelola daya tarik wisata untuk mengumpulkan massa dalam waktu singkat.
Menurutnya, mengarahkan minat para pelari untuk datang ke sebuah lokasi jauh lebih sederhana jika dibandingkan dengan upaya promosi konvensional.
“Kunjungan domestik masih sedikit. Untuk menambah kunjungan itu kami melaksanakan event nasional yang dikemas seperti ini,” jelas Purna.
Ia pun menekankan efektivitas metode ini dengan menegaskan bahwa membuat crowd itu lebih mudah.
Kegiatan yang diikuti oleh 1.700 peserta ini menawarkan pengalaman lari sejauh lima kilometer menembus rute pedesaan.
Keunikan pemandangan sawah menjadi nilai jual utama dibandingkan ajang lari lain yang biasanya hanya mengeksplorasi jalanan kota atau kawasan pesisir pantai.
“Turun di sini saja. Lewat jalan subak yang ada di sini,” tutur Purna saat menjelaskan teknis rute Bali Tourism Run yang digelar pada Minggu (21/6) pagi.
Lonjakan massa ini terbukti memberikan dampak ekonomi nyata bagi masyarakat sekitar, terutama pada sektor penginapan.
Tingkat keterisian homestay di sekitar Jatiluwih dilaporkan telah mencapai kapasitas maksimal hingga merambah ke wilayah kecamatan tetangga. “Sampai ke Baturiti di Pacung sudah penuh penginapannya,” ujar Purna mengeklaim.
Secara jangka panjang, ribuan peserta ini diposisikan sebagai agen promosi digital yang akan menggaungkan nama Jatiluwih melalui dokumentasi kegiatan mereka.
Pihaknya juga berencana menjadikan ajang lari ini sebagai agenda tahunan rutin jika terbukti mampu menjaga stabilitas kunjungan.
“Bagi kami ini ajang promosi. Secara tidak langsung (Jatiluwih) digaungkan,” kata Purna.
Meskipun awalnya hanya menetapkan target minimal seribu peserta, antusiasme masyarakat ternyata jauh melampaui ekspektasi manajemen DTW Jatiluwih.
Hingga hari pembukaan, jumlah pendaftar telah mendekati batas atas dari proyeksi yang ditetapkan panitia.
“Tapi sebenarnya, kalau sampai seribu peserta saja kami sudah sangat bersyukur. Sudah melampaui ekspektasi kami. Margin bawahnya seribu. Margin atasnya dua ribu,” pungkasnya. (c/kb)

















