
TABANAN, Kilasbali.com – Fenomena bola api misterius di Desa Adat Jegu, Kecamatan Penebel, Tabanan, dilaporkan mulai meredup dalam beberapa waktu terakhir.
Intensitas kemunculan bola api yang sempat viral di media sosial tersebut kini menyusut drastis dari lima titik menjadi hanya satu lokasi saja pasca-pelaksanaan upacara pecaruan.
Sebelumnya, bola api yang lebih dikenal dengan istilah “suluh’ oleh warga setempat itu kerap terlihat di berbagai area sakral seperti setra (kuburan), Pura Prajapati, hingga perbatasan desa.
Namun, setelah pihak desa menggelar upacara pecaruan Eka Sata, titik api kini hanya terpusat di sekitar pohon beringin besar di wilayah Ulun Desa atau ujung selatan Jegu.
Bendesa Adat Jegu, Ida Bagus Komang Gangga, mengungkapkan bahwa aktivitas spiritual tersebut kini tidak lagi terjadi secara masif seperti sebelumnya.
Selain jumlah titik yang berkurang, durasi kemunculannya pun relatif singkat, yakni hanya sekitar lima detik saja.
“Sekarang hanya sesekali muncul, biasanya sekitar pukul 19.30 hingga 22.00 Wita,” ujar Gangga pada Senin (1/5).
Kondisi di sekitar lokasi kemunculan bola api kini terpantau jauh lebih kondusif dibandingkan saat awal fenomena ini mencuat.
Jika sebelumnya kerumunan warga luar desa yang datang menonton menyerupai suasana pasar malam, kini situasi di lapangan sudah jauh lebih sepi.
“Sekarang kondisi sudah lebih sepi, tidak ada kerumunan warga seperti sebelumnya. Situasi tetap aman,” tegasnya.
Pihak desa adat tetap mengimbau masyarakat agar tidak terpancing oleh isu-isu yang tidak benar atau narasi yang meresahkan.
Ia menyebut karakteristik kemunculan bola api tersebut cenderung tenang dan tidak berpindah-pindah lokasi secara liar sehingga tidak mengganggu aktivitas keseharian warga.
“Bola api yang muncul ini tidak menganggu. Kemunculannya tenang. Kalau muncul di timur, ya di timur saja. Tidak wara wiri,” jelasnya.
Meskipun intensitas fenomena telah menurun, aparat pecalang desa tetap disiagakan untuk memantau situasi di lapangan, terutama pada malam hari.
Penjagaan ini difokuskan untuk mengantisipasi potensi kerumunan warga luar desa yang masih penasaran ingin menyaksikan fenomena tersebut secara langsung.
“Pecalang diturunkan untuk mengantisipasi adanya warga luar ramai-ramai menonton,” pungkas Gangga. (c/kb)

















