Siswa SMPN 2 Marga Bikin Tas Kresek Organik dari Kulit Pisang

TABANAN, Kilasbali.com – Lima siswa SMPN 2 Marga berhasil menciptakan inovasi bioplastik ramah lingkungan berbahan limbah kulit pisang yang mampu terurai hanya dalam waktu tujuh hari.
Karya inovatif dalam wujud tas kresek organik ini bahkan sudah meraih Juara III Kategori Pelajar dalam Lomba Inovasi Daerah 2025 yang digelar Badan Riset Daerah (Brida) Tabanan.
Inovasi ini lahir dari keprihatinan mereka terhadap tumpukan sampah plastik yang belum bisa tertangani secara optimal.
Ide pengolahan limbah ini muncul setelah para siswa yang tergabung dalam ekstrakurikuler Karya Ilmiah Remaja (KIR) terinspirasi pada artikel penelitian tentang pengolahan kulit singkong.
Saat dilombakan tahun lalu, karya mereka diberi judul Banana Plastik Biu Gedang Saba Untuk Masa Depan.
Mereka kemudian memilih kulit pisang, spesifiknya lagi pisang atau biu gedang saba, sebagai bahan utamanya.
Pemilihan bahan baku utama itu dikarenakan kulit pisang itu relatif tebal dan memiliki kandungan pati yang tinggi.
Salah satu anggota tim riset dari SMPN 2 Marga, Dewa Ayu Fanny Apriliani, menyebut bahan baku tersebut sangat mudah didapatkan.
Timnya memanfaatkan limbah kulit pisang yang diperoleh dari pedagang gorengan di sekitar mereka. “Karena banyak dibuang pedagang pisang goreng,” ujar Fanny pada Selasa (3/3).
Proses penciptaan tas kresek organik ini tidaklah instan. Bahkan, di tahap uji coba atau eksperimen, timnya mengalami beberapa kali kegagalan teknis.
Setidaknya, mereka sudah empat kali melakukan uji coba untuk mendapatkan formula dan takaran yang ideal untuk diubah menjadi lembaran sebagai bahan baku tas kresek organik.
Secara garis besar, karya inovasi ini juga memanfaatkan tepung maizena dan gliserol untuk melengkapi sari pati dari kulit pisang.
Saat ini, bioplastik itu sudah bisa difungsikan. Meskipun, fungsinya itu masih terbatas pada barang-barang dengan bobot ringan dan kering. “Untuk dua buku tulis masih bisa,” sebutnya.
Fanny menyebut, inovasi timnya itu masih perlu pengembangan lebih lanjut agar bisa menjadi kresek yang kuat dan tahan terhadap cairan.
“Kalau menampung air masih tembus karena proses perekatan belum maksimal,” pungkas Fanny.
Anggota tim lainnya, Gusti Ayu Putu Indah Rahayu Mertaningsih, menyebutkan bahwa kulit pisang yang dimanfaatkan sebagai bahan baku bioplastik ini juga perlu melalui seleksi.
Untuk mendapatkan hasil yang ideal, kulit pisang yang dipakai sebaiknya masih segar dan belum menghitam. “Agar warna plastiknya lebih baik,” ungkap Indah.
Ia juga cerita bahwa cuaca menjadi faktor penentu proses pembuatan bioplastik dari limbah kulit pisang ini. Terutama pada tahap pengeringannya.
Tantangan beratnya mereka rasakan bila kondisi cuaca lagi mendung atau hujan. Lembaran yang dihasilkan tidak mongering dengan sempurna.
Bahkan, bisa saja bahan baku bioplastik itu rusak karena terlalu lengket dan berjamur bila tahap pengeringan tidak ideal.
Tantangan lainnya yakni mencari takaran gliserol yang tepat agar bisa mendapatkan lembaran bioplastik elastis.
“Beberapa kali hasilnya ada yang sobek, berlubang, atau terlalu tipis,” beber Indah seraya menyebutkan bahwa inovasi bioplastik ini perlu melalui penyempurnaan lagi.
Sementara itu, guru pembina KIR SMPN 2 Marga, Ni Putu Siska Ratna Ulandari, mengaku bangga atas capaian anak didiknya itu.
Bahkan, Siska dan pihak sekolah berencana menyosialisasikan lebih luas lagi pemanfaatan limbah kulit pisang tersebut sebagai tas keresek organik.
Itupun bila inovasi yang dihasilkan anak didiknya tersebut sudah memiliki kualitas yang sudah stabil.
Soal penyempurnaan, Siska menyebutkan bahwa tahap itu memerlukan dukungan alat dan teknologi yang lebih mumpuni agar bisa menghasilkan tas keresek yang tahan cairan.
Sejauh ini, tas keresek organik dari limbah kulit pisang hasil inovasi anak didiknya itu masih memanfaatkan lem sebagai perekatnya. “Untuk menampung air masih bocor,” kata Siska. (c/kb)

















