Dewan Dody Bantu Pulangkan 5 Buruh Bangunan asal Jawa Barat

SINGARAJA, Kilasbali.com– Ketut Dody Tisna Adi selaku Anggota DPRD Kabupaten Buleleng-Bali, akhirnya memfasilitasi memulangkan mandiri lima pria pekerja buruh bangunan asal Jawa Barat dengan jalur darat. Mereka dipulangkan pada Selasa (23/12/2025) pukul 16.00 sore.
Sebelumnya, kelima pekerja sempat ditampung sementara di rumah Dewan Dody. Identitas mereka itu masing masing :
1. Melandi asal Desa Heuleut, Kecamatan Kadipaten, Majalengka-Jawa Barat.
2. Danu asal Desa Liangjulang, Kecamatan Kadipaten, Majalengka-Jawa Barat.
3. Rustandi asal Desa Buninagara, Kecamatan Kutawaringin, Kota Bandung,Jawa Barat.
4. Yogi Apriyanto asal Desa Liangjulang, Kecamatan Kadipaten, Majalengka-Jawa Barat.
5. Firman Siswanto asal Desa/Kecamatan Kadipaten, Majalengka-Jawa Barat.
Nah, sebelum dipulangkan, Firman sempat menceritakan duduk permasalahan sebelum memutuskan kabur dari tempatnya bekerja di kawasan Kintamani.
Awalnya, Firma mereka bertemu saudara dan mengenalkan dengan seseorang yang mengaku mandor bangunan. Kemudian, mandor tersebut menawarkan proyek menggiurkan, yakni pembangunan rumah pribadi style bali di kawasan Kintamani, Bangli-Bali. Keduanya kemudian sepakat, sistem pengupahan Rp 170 ribu per hari. Uang transport dan akomodasi dari Bandung ke Bali, ditanggung sang mandor sebesar Rp 2 juta. Bangunan dua lantai itu, ditarget rampung pertengahan Januari 2026 mendatang.
“Kami bertemu (Firman dan mandor) pada 3 Desember 2025 lalu, melalui salah satu saudara di kampung. Kemudian, kita langsung berangkat dan tiba di Bali pada 5 Desember 2025 pakai jalur darat (bus). Awalnya, kami bertiga saja. Kita langsung kerja. Setelah seminggu kerja, kami meminta upah untuk kirim ke kampung. Namun, sang mandor mengulur waktu pengupahan. Seminggu berlalu, datang lagi dua pekerja baru, sama sama dari Jawa Barat. Jadi kita kerja berlima. Kita mulai kerja dari pukul 06.30 pagi sampai pukul 17.00 sore tanpa jeda istirahat. Kami tidur di teras terbuka dengan suhu dingin Kintamani. Ketika turun hujan pun kita dipaksa kerja. Lalu, puncaknya itu, Selasa (23/12/2025) pagi. Kami cekcok dengan mandor karena ingkar dari kesepakatan. Upah semula dijanjikan harian diubah borongan. Kami dipaksa ambil borongan bangunan style bali 8×10 meter Rp 360 juta. Tentu itu mustahil, tidak akan nutup, tekor. Plus, kami dipotong Rp 100 ribu seminggu untuk dua kali makan setiap harinya. Jadi, kami berlima putuskan stop, pulang kampung ke Jawa Barat,” ungkap Firman.
Firman mengaku tidak tau persis dimana posisi tepat lokasinya bekerja.
“Soal nama tempat (desa) proyek bangunan style bali itu, kami tidak tahu,” imbuhnya.
Selanjutnya, mereka memutuskan pergi dengan berjalan kaki pulang ke Jawa Barat.
“Kami tidak punya bekal (uang). Modal nekat saja jalan kaki, dan berharap ada truk tumpangan ke Jawa,” terangnya.
Firman mengaku sudah lebih dari 3 jam jalan kaki, sebelum mereka akhirnya nekat menghadang mobil pribadi Anggota DPRD Buleleng, Ketut Dody Tisna Adi yang saat itu sedang melintas di kawasan bukit Penulisan, Kintamani.
“Sudah capek sekali jalan kaki lebih dari 3 jam. Jalanan malam itu sangat sepi, meski kami berlima, jujur kami takut. Kami tidak tahu dimana posisi kami saat malam itu,” tambahnya.
Firman menyampaikan permohonan maaf sekaligus terimakasih atas bantuan yang diberikan Dewan Dody.
“Kami sangat berterimakasih sudah dibantu, sehingga hari ini kita semua bisa pulang kembali ke Jawa Barat,” pungkasnya. (Ard/kb)

















