Karya Warga Binaan Berkolaborasi di Bali Fashion Trend

GIANYAR, Kilasbali.com – Terobosan inovatif dalam pembinaan warga binaan, Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Kemenimipas) berkolaborasi di ajang Bali Fashion Trend 2025.
Melalui kolaborasi strategis ini, menandai pergeseran paradigma pembinaan dari pendekatan konvensional menuju integrasi industri kreatif profesional, khususnya dalam pengembangan produk fashion yang menggabungkan aspek sosial, psikologis, dan reintegrasi sosial warga binaan.
Dalam pergelaran ini, Kementerian Imipas berkolaborasi dengan desainer IFC yakni Sofie, Lisa Fitria, dan Irmasari. Kolaborasi ini mengintegrasikan produk kerajinan warga binaan seperti batik, anyaman, bordir, dan produk kulit dengan desain fashion kontemporer, menciptakan nilai tambah estetika dan komersial yang signifikan.
” Kolaborasi ini merupakan wujud komitmen sistem pemasyarakatan Indonesia dalam menghadirkan pembinaan yang humanis dan berorientasi pada masa depan warga binaan,” ungkap Direktur Jenderal Pemasyarakatan Kementerian Imipas, Mashudi, Jumat (19/12).
Lanjutnya, melalui program ‘Beyond Beauty’, memposisikan warga binaan sebagai co-creator dalam industri fashion profesional.
“Kami tidak hanya mengajarkan keterampilan, tetapi juga membangun kepercayaan diri, identitas positif, dan harapan akan masa depan yang lebih baik,” ujar Mashudi.
Dalam pembinaan berbasis pengembangan produk fashion ini, lapas berfokus pada pengembangan produk fashion melalui tiga pilar utama. Pilar pertama adalah quality control dengan pendekatan edukatif, di mana warga binaan mempelajari standar kualitas industri fashion profesional, mulai dari pemilihan bahan, teknik pengerjaan, hingga finishing yang memenuhi ekspektasi pasar.
Pilar kedua adalah capsule collection dengan narasi transformasi, di mana setiap produk memiliki cerita transformasi yang menciptakan emotional connection dengan konsumen dan mengubah persepsi terhadap produk warga binaan.
Pilar ketiga adalah story telling sebagai strategi branding, yang mengubah “produk narapidana” menjadi “transformative fashion” yang bermakna secara sosial dan bernilai tinggi secara ekonomi.
Hadir di Bali Fashion Trend menjadi platform strategis untuk memperkenalkan hasil kolaborasi ini kepada pasar global. Advisory IFC Ali Charisma menyambut baik kolaborasi ini sebagai bentuk kontribusi nyata industri fashion terhadap transformasi sosial.
“Fashion bukan hanya tentang estetika, tetapi juga tentang makna dan dampak sosial. Kolaborasi dengan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan membuktikan bahwa industri kreatif dapat menjadi medium transformasi yang powerful bagi warga binaan,” ungkap Ketua IFC Lenny Agustin.
Program kolaborasi ini diharapkan mampu menghasilkan dampak signifikan pada berbagai dimensi. Dari sisi dampak sosial dan psikologis, program ini diharapkan dapat memulihkan kepercayaan diri warga binaan melalui pengakuan atas keterampilan mereka di panggung internasional, membangun identitas positif dari “narapidana” menjadi “artisan” yang berkontribusi pada industri kreatif nasional, serta menghancurkan stigma terhadap produk warga binaan melalui kolaborasi dengan desainer profesional ternama. Program ini juga memberikan harapan akan masa depan melalui keterampilan yang menjadi modal nyata untuk kehidupan pasca-pembebasan, sekaligus meningkatkan kesehatan mental dan motivasi melalui apresiasi profesional terhadap karya mereka.
Sementara itu, dari sisi dampak sistemik, kolaborasi ini diharapkan menjadi model rujukan dalam integrasi pemasyarakatan dengan industri kreatif, memberikan dukungan terhadap visi sistem pemasyarakatan yang lebih humanis dan berorientasi reintegrasi sosial, serta mengimplementasikan nilai-nilai KUHP Baru 2025 yang menekankan rehabilitasi dan reintegrasi sosial. Program ini juga diharapkan dapat memperkuat ekosistem kolaborasi antara pemerintah, industri kreatif, dan masyarakat sipil, sekaligus menciptakan model pembinaan yang dapat direplikasi di sektor industri kreatif lainnya. (Ina/kb)

















