
TABANAN, Kilasbali.com – Jauh sebelum ingar bingar soal pemilahan sampah di Kabupaten Tabanan yang terjadi sejak awal Mei 2026, manajemen Daya Tarik Wisata (DTW) Ulundanu Beratan sudah mengelola sampah secara mandiri sejak 2022.
Hingga kini, proses pengolahan sampah berbasis sumber itu sudah memasuki tahun keempat dengan kompos sebagai produk olahan utamanya. Ini karena Ulundanu Beratan, termasuk anak usahanya yakni The Blooms Garden, menjadikan taman sebagai satu aset wisatanya.
“Sudah kami laksanakan (secara mandiri) sejak 2022. Dulunya, kami bekerja sama dengan DLH (Dinas Lingkungan Hidup) Tabanan,” jelas Humas DTW Ulundanu Beratan, I Made Sukarata, pada Minggu (10/5).
Keputusan manajemen untuk melakukan pengolahan limbah atau sampah secara mandiri sejak 2022 lalu dilakukan sebagai tindak lanjut dari Pergub Bali Nomor 47 Tahun 2019 tentang Pengolahan Sampah Berbasis Sumber.
Selain itu, kerja sama dengan DLH Tabanan sebelumnya juga tidak sanggup mengolah sampah yang ada di Ulundanu Beratan dan The Blooms Garden lantaran volumenya yang relatif tinggi. Dalam seminggu, volume timbulan sampah di dua tempat wisata ini mencapai dua kontainer.
Sejak saat itu, manajemen DTW Ulundanu Beratan melakukan studi tiru di beberapa tempat di wilayah Bali. Misalnya di Tabanan, mereka melakukan studi tiru di Selabih, Kecamatan Selemadeg Barat, hingga ke Kabupaten Klungkung.
Sukarata menjelaskan, aktivitas pengolahan sampah dilakukan di atas lahan seluas kurang lebih dua are dengan melibatkan 30 petugas kebun yang bertugas di lapangan. Lokasi pengolahannya ada di selatan The Blooms Garden.
Setiap harinya, tim pengolahan mampu menangani hampir seratus kilogram sampah yang dikumpulkan dari lingkungan pura, taman, hingga area publik.
Pola pengolahan ini diawali dengan proses pemilahan ketat pada masing-masing unit, termasuk restoran, yang memisahkan sampah plastik, organik, dan residu.
“Yang plastik disisihkan. Yang organik langsung diolah menjadi (bahan baku) kompos,” jelas Sukarata.
Kemandirian ini di sisi lain memberikan dampak ekonomi positif bagi manajemen karena tidak perlu lagi mengeluarkan anggaran untuk pembelian pupuk kimia bagi tanaman pada taman yang ada di Ulundanu Beratan atau The Blooms Garden.
Selain itu, sampah anorganik yang telah dipilah dijual kepada pihak ketiga dan hasil penjualannya dibagikan kepada para petugas kebun sebagai bentuk apresiasi atas tugas tambahan mereka tersebut.
“Kompos yang dihasilkan itu dikembalikan ke taman, baik itu yang di Ulundanu Beratan dan The Blooms Garden, sebagai pupuk. Jadi kami tidak beli pupuk lagi,” pungkas Sukarata. (c/kb)

















