
TABANAN, Kilasbali.com – Angka kecelakaan lalu lintas di Kabupaten Tabanan menunjukkan tren penurunan sebesar 44 persen selama pelaksanaan Operasi Ketupat Agung 2026 dibandingkan periode yang sama pada 2025 lalu.
Meski frekuensi kecelakaan di jalan raya berkurang signifikan, nilai kerugian materi justru tercatat mengalami peningkatan hingga 60 persen.
Berdasarkan data analisis dan evaluasi (anev) Operasi Ketupat Agung 2026, jumlah insiden kecelakaan di jalan raya turun dari 32 kasus pada 2025 menjadi 18 kasus pada 2026.
Penurunan ini berdampak langsung pada tingkat fatalitas di mana jumlah korban meninggal dunia berkurang dari empat jiwa menjadi tiga jiwa.
Kasat Lantas Polres Tabanan, AKP Anton Suherman, memaparkan bahwa penurunan juga terjadi pada jumlah korban luka ringan yang menyusut dari 38 orang menjadi 22 orang.
Secara kumulatif, tren penurunan ini menjadi catatan positif bagi penanganan arus mudik dan balik di wilayah hukum Tabanan.
“Jumlah kecelakaan sebanyak 18 kasus, dengan tiga korban meninggal dunia, luka berat nihil, dan luka ringan 22 orang. Total kerugian materiil mencapai Rp23,3 juta,” ujar AKP Anton Suherman, Minggu (5/4).
Ia menambahkan, pihaknya juga mencatat sejumlah titik rawan kecelakaan masih tersebar di berbagai wilayah, mulai dari jalur Petiga–Geluntung di Marga hingga kawasan Candikuning di Baturiti.
Selain itu, tanjakan Samsam di Kerambitan yang berada di jalur nasional Denpasar-Gilimanuk juga tetap menjadi atensi pengamanan kepolisian. “Rata – rata lokasi kecelakaan tersebar di masing – masing kecamatan,” imbuhnya.
Secara umum, kasus kecelakaan lalu lintas berdasarkan perbandingan data pelaksanaan Operasi Ketupat Agung 2025 dan 2026 menunjukkan penurunan sebesar 14 kasus atau sekitar 44 persen.
Sementara itu, pelanggaran lalu lintas tercatat sebanyak 448 kasus yang didominasi oleh teguran lisan sebanyak 431 kasus.
Pemanfaatan teknologi melalui tilang elektronik atau ETLE juga mengalami peningkatan sebesar 31 persen dengan total 17 tindakan.
Anton menilai kesadaran masyarakat mulai tumbuh meski pelanggaran masih didominasi oleh kelompok usia produktif yang melintas di jalur utama.
“Operasi tahun ini menurun sekitar sepuluh persen, kalau untuk pelanggaran masih didominasi usia yang produktif,” jelasnya. (c/kb)

















