Festival Tanah Lot Targetkan Promosi Berkelanjutan Lewat Pengalaman Wisata

TABANAN, Kilasbali.com – Manajemen Daerah Tujuan Wisata (DTW) Tanah Lot rupanya tidak hanya membidik perputaran uang besar dalam penyelenggaraan Tanah Lot Art and Food Festival ke-7 Tahun 2026.
Lebih dari itu, pengelola menargetkan promosi berkelanjutan jangka panjang lewat pemberian pengalaman wisata (experience) bagi para pengunjung.
Ajang tahunan ini sekaligus menjadi bagian dari upaya strategis untuk membangun Tabanan sebagai Titik Kumpul sesuai gagasan Bupati Tabanan.
Agenda promosi ini dinilai penting untuk tetap dilakukan guna menjaga daya tarik pariwisata daerah di tengah lesunya kunjungan akibat dinamika geopolitik dan ekonomi global.
Manajer DTW Tanah Lot, I Wayan Sudiana, menerangkan bahwa fokus utama dari festival ini sama sekali tidak bertumpu pada target penjualan (selling) instan. Pihak pengelola memilih fokus memberikan kesan mendalam bagi setiap pelancong yang datang.
“Ini karena wisata merupakan kebutuhan terakhir. Tetapi, kami ingin memberikan experience atau pengalaman (wisata),” ujar Sudiana di sela-sela penutupan Festival Tanah Lot 7 Tahun 2026 pada Minggu (30/8).
Pengalaman berkesan tersebut diharapkan dapat menjadi referensi positif bagi wisatawan untuk berkunjung kembali pada momen liburan berikutnya. Terutama saat kondisi geopolitik dan ekonomi global pulih kembali.
Rekomendasi informal dari mulut ke mulut ini diyakini menjadi instrumen promosi jangka panjang yang sangat efektif.
Sebagai wujud nyata promosi berkelanjutan tersebut, pihak manajemen pariwisata juga telah merancang program seni budaya rutin pasca-festival.
Program ini diambil agar atmosfer kemeriahan seni tidak langsung meredup setelah rangkaian festival ditutup.
“Apalagi nanti setiap weekend ada pertunjukan kesenian seperti Tektekan dan tarian tradisional. Target itu yang ingin kami capai,” sambungnya.
Mengenai target perputaran uang, pihaknya optimis mencapai target sekitar Rp 10 miliar selama berlangsungnya festival. “Kami mengestimasikan menyentuh itu,” katanya.
Menurutnya, perputaran uang ini tidak semata dari penjualan tiket kunjungan semata. Lebih dari itu, pihaknya memperkirakan perputaran ini juga terjadi di luar arena festival.
“Termasuk di luar arena festival seperti biaya tata rias para peserta festival, transportasi, dan lainnya. Kami optimis mencapai itu,” ungkapnya.
Meskipun data transaksi riilnya belum terkumpul secara pasti, perputaran ekonomi ini dipastikan mengalir langsung ke kantong masyarakat bawah.
Para pelaku jasa penata rias (make-up artist) lokal hingga penyedia transportasi ikut menikmati limpahan rezeki dari aktivitas festival.
Estimasi capaian tersebut juga didukung oleh peningkatan kunjungan wisatawan ke Tanah Lot yang diperkirakan naik sekitar 20 persen selama momen festival berlangsung. (c/kb)

















