
TABANAN, Kilasbali.com – Ledakan gas metan akibat cuaca panas ekstrem memicu kemunculan titik api baru disertai kepulan asap tebal di sisi selatan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Mandung, Desa Sembung Gede, Kecamatan Kerambitan.
Peristiwa ledakan yang pertama kali terjadi pada Kamis (27/8) tersebut terjadi secara mendadak di lapisan atas gunungan sampah.
Insiden ini diduga dipicu akumulasi hawa panas yang terperangkap dalam jangka waktu lama di bawah timbunan sampah organik.
Kondisi TPA yang mengeras akibat kekeringan panjang membuat gas metan sisa pembusukan tidak mampu mengalir keluar.
Kepala UPTD TPA Mandung, I Wayan Atmaja, menjelaskan bahwa kenaikan suhu ekstrem diduga menjadi pemicu utama terjadinya reaksi kimia berbahaya di dalam timbunan sampah.
“Kemarau panjang akibatkan gas metan di bawah tumpukan sampah mengalami panas. Lalu terjadi ledakan di atas tumpukan dan muncul api serta kepulan asap,” jelas Atmaja pada Kamis (27/8).
Untuk meredam kobaran api agar tidak menjalar ke area yang lebih luas, petugas di lapangan langsung mengambil langkah darurat.
Petugas TPA segera mempercepat proses penimbunan tanah dan menggandakan intensitas penyiraman air secara berkala.
Siklus pembasahan sampah yang semula hanya dijadwalkan setiap dua pekan sekali kini diubah total menjadi tindakan berkala demi menjaga kelembapan area TPA.
“Dengan kondisi sekarang akan kami tingkatkan menjadi dua kali dalam satu minggu. Pengurugan dan penyiraman dilakukan untuk mencegah panas serta asap tidak semakin melebar,” jelasnya.
Selain penyiraman ekstra, pasokan tanah untuk menutup permukaan sampah juga terus disiagakan secara masif.
Sedikitnya lima armada truk pengangkut tanah urug dikerahkan setiap lima hingga tujuh hari sekali untuk mengisolasi tumpukan sampah yang rawan terbakar dari paparan udara luar.
Upaya membuat isolasi api dengan tanah ini dinilai sangat efektif untuk mereduksi potensi kebakaran gas metan.
Kebijakan darurat ini juga sejalan dengan percepatan sistem pengurugan terkendali (controlled landfill) di TPA Mandung yang per Agustus 2026 ini progresnya telah menyentuh angka 70 persen.
Sementara itu, pengawasan ketat juga diberlakukan non-stop hingga malam hari untuk mengantisipasi potensi bara api tersembunyi.
Petugas jaga malam disiagakan penuh untuk mengawasi titik-titik rawan timbunan sampah yang berpotensi memicu kepulan asap baru.
Apabila kebakaran meluas dan eskalasi api di lapangan tidak sanggup lagi dijinakkan oleh tim internal, koordinasi darurat dengan dinas pemadam kebakaran akan segera dilakukan.
“Petugas jaga malam tetap kami siagakan untuk mengecek keberadaan api dan asap. Kalau terjadi perluasan, kami akan kerahkan bantuan pemadam kebakaran,” pungkasnya. (c/kb)

















