Perajin di Kediri Ubah Limbah Kayu Jati Jadi Media Lukisan Wayang Bali

TABANAN, Kilasbali.com – Seorang perajin dari Banjar Puseh, Kecamatan Kediri, I Wayan Sution, mengubah limbah kayu jati reject menjadi media lukis tokoh pewayangan Bali.
Dalam Festival Tanah Lot 7, sejumlah karya daur ulang hasil kerajinan Sution tersebut dipamerkan hingga hari terakhir.
Sution bercerita, untuk menghasilkan kerajinan tersebut, dirinya memanfaatkan sisa-sisa potongan kayu sisa produksi mebel yang biasanya terbuang di dekat tempat tinggalnya.
Di tangan kreatifnya, cacat fisik kayu seperti permukaan yang kasar, bocel, hingga berlubang justru menjadi daya tarik utama bagi para kolektor seni yang berkunjung ke festival.
Menurut Sution, keunikan guratan serat alam pada kayu jati reject membuat setiap lukisan memiliki karakter tersendiri yang tidak bisa direplikasi.
Karakter cacat kayu yang semula tidak bernilai justru menjadi buruan paling favorit bagi para peminat seni.
“Kayu yang bolong di tengah ini dibuang dan tidak dipakai pabrik pembuatan mebel. Tetapi ketika dibuat lukisan, ini yang membuat pembeli tertarik,” tutur Sution pada Sabtu (29/8).
Sution menjelaskan, proses pengerjaan satu lukisan wayang dengan media limbah kayu jati tergolong sangat singkat.
Mulai dari pengolahan bahan mentah hingga goresan kuas terakhir, ia hanya memerlukan waktu sekitar 48 jam.
Seluruh proses itu ia lakukan di workshop yang diberi nama Art Creative. Di situ juga, Sutian bertempat tinggal. “Jadi dari proses penyerutan kayu sampai melukis itu butuh waktu dua hari,” sambungnya.
Sebagian besar lukisan kayu jati garapannya menampilkan visualisasi detail tokoh-tokoh pewayangan klasik.
Karya-karya bernilai seni tinggi ini ditawarkan dengan kisaran harga mulai dari Rp 250 ribu hingga Rp 300 ribu per unit.
Meskipun memiliki patokan harga standar, Sution mengaku sangat fleksibel dalam bertransaksi dengan para calon pembeli.
Ia lebih mengutamakan terbangunnya keselarasan rasa dan apresiasi terhadap karya seni yang diciptakannya.
“Sebenarnya kalau harga saya tidak memberikan harga mati segitu. Jika pembeli menghargai hasil seni lukis saya dan nyambung mengobrol soal seni, bisa saya berikan harga lebih murah,” ungkapnya.
Selain memproduksi stok khusus pameran, ia juga melayani pembuatan lukisan dengan sistem pemesanan khusus di luar jadwal festival.
Tarif untuk pengerjaan lukisan pesanan tersebut disesuaikan kembali dengan tingkat kerumitan gambar yang diminta oleh konsumen.
“Kalau hari biasa saya buat lukisan ini saat ada pesanan. Selain ide dari saya, banyak juga yang meminta custom. Jadi konsumen meminta lukisan tertentu atau memberikan contoh gambar yang harus dilukis. Kalau untuk custom ini harganya bisa beda,” jelasnya.
Bagi Sution, keikutsertaannya dalam festival di objek wisata Tanah Lot ini bukan semata-mata demi mengejar omzet penjualan kilat.
Keikutsertaannya di event ini merupakan bagian dari upayanya untuk mengenalkan identitas kerajinannya kepada publik yang lebih luas.
“Menjual lukisan itu cukup sulit. Jadi dengan ikut pameran atau festival seperti ini, saya ingin membangun branding sehingga karya saya lebih dikenal,” pungkasnya. (c/kb)

















