Daya Ungkit Libur Lebaran 2026 untuk Kunjungan Wisata di Tanah Lot-Ulundanu Kecil

TABANAN, Kilasbali.com – Momen libur Lebaran 2026 rupanya tidak banyak memberikan daya ungkit atau relatif kecil bagi peningkatan jumlah wisatawan di dua objek wisata utama Tabanan seperti Tanah Lot dan Ulundanu Beratan.
Meski pada libur Lebaran 2026 keduanya sempat mengalami kenaikan jumlah kunjungan, namun kenaikan itu masih kalah dibandingkan kunjungan saat libur Lebaran 2025.
Asisten Manajer DTW Tanah Lot, I Putu Toni Wirawan, mengakui adanya tren penurunan jika disandingkan dengan capaian tahun lalu.
Pada Rabu (25/3), ia menjelaskan bahwa sebelum masa libur Lebaran tiba, angka kunjungan bahkan sempat merosot tajam selama periode puasa.
“Kalau dibandingkan dengan Lebaran 2025, momen libur Lebaran 2026 ini memang mengalami penurunan,” ujar Toni.
Ia menambahkan situasi serupa terjadi di berbagai destinasi lain di mana selama puasa kunjungan hanya berkisar 1.200 sampai 1.300 orang.
“Sebelum Lebaran, kunjungan drop. Selama puasa, sekitar 1.200 sampai 1.300 orang. Dari awal puasa. Kami cek di objek wisata lain, kondisinya sama,” imbuhnya.
Toni merinci bahwa wisatawan domestik asal Jawa Timur dan Jawa Tengah memang masih mendominasi kedatangan.
Namun, lesunya pasar Eropa akibat faktor geopolitik di Timur Tengah membuat total angka kunjungan tidak bisa melampaui rekor tahun sebelumnya. “Agak turun dibandingkan Lebaran 2026,” ujarnya.
Apalagi, sejak terjadinya konflik di Timur Tengah, beberapa penerbangan Eropa yang transit di sejumlah bandara di beberapa negara Timur Tengah memutuskan untuk setop beroperasi.
Akibatnya, profil wisatawan mancanegara saat ini hanya bertumpu pada pasar India dan Asia Timur.
Sesuai data, kunjungan di Tanah Lot pada momen Lebaran kali ini hanya sanggup menyentuh angka empat ribuan orang, turun dari tahun 2025 yang mencapai lima ribu orang. “Ada (peningkatan wisatawan domestik), tapi tidak sebanyak Lebaran 2025,” tandasnya.
Senada dengan Tanah Lot, kondisi di DTW Ulundanu Beratan juga menunjukkan pola serupa di mana peningkatan baru mulai terasa justru setelah hari H Lebaran.
Humas DTW Ulundanu Beratan, I Made Sukarata, menyebut terdapat pergeseran waktu kenaikan kunjungan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
“Kalau di libur Lebaran tahun-tahun sebelumnya 15-20 hari sebelum Lebaran sudah ada peningkatan,” ungkap Sukarata.
Sekarang, sambungnya, justru setelah Lebaran baru ada peningkatan. “Puncaknya cuma pas di Lebaran pada 21 Maret 2025. Habis itu menurun perlahan,” bebernya.
Sukarata memaparkan bahwa sebelum tanggal 21 Maret 2026, kondisi objek wisata sangat sepi dengan rata-rata hanya 150 kunjungan domestik per hari.
Penurunan ini menurutnya sangat terasa jika dibandingkan dengan durasi peningkatan kunjungan pada libur Lebaran 2025.
“Dibandingkan dengan Lebaran 2025, penurunannya yang cukup signifikan. Di Lebaran 2025, 15 hari sebelumnya sudah ada peningkatan,” tegasnya.
Untuk wisatawan mancanegara, Ulundanu Beratan saat ini masih mengandalkan turis dari India, Tiongkok, Taiwan, dan Singapura.
Sukarata mengonfirmasi bahwa konflik di Timur Tengah berimbas langsung pada pembatalan pesanan dari pasar Eropa.
“Sangat berpengaruh. Banyak yang cancel apalagi ada beberapa penerbangan yang tidak beroperasi,” ungkapnya.
Untuk wisatawan asing, sambungnya, saat ini masih didominasi dari India dan Asia seperti Tiongkok, Taiwan, dan Singapura.
Bila mengacu pada data rata-rata, kunjungan harian di Ulundanu Beratan selama libur Lebaran 2026 hanya mencapai 1.600 hingga 1.700 orang.
“Kalau di Lebaran 2025 jumlahnya mampu menembus 2.100 orang per hari,” pungkas Sukarata. (c/kb)

















