Aneka Pohon Natal dari Bahan Daur Ulang Percantik Kota Singasana

TABANAN, Kilasbali.com – Puluhan pohon Natal berbahan material daur ulang mempercantik Kota Singasana sejak beberapa hari terakhir ini.
Pohon natal tersebut terlihat terpasang di sepanjang Jalan Pahlawan, Taman Sri Wedari, dan yang paling banyak di Taman Perjuangan Singasana.
Ornamen Natal lainnya juga tersebar di beberapa tempat publik lainnya seperti Lapangan Alit Saputra di Banjar Dangin Carik, Desa Dajan Peken.
Aneka pohon dan pernak-pernik Natal itu ada yang memanfaatkan botol plastik air mineral, kayu atau bambu, hingga tong besi.
“Jumlahnya mungkin sekitar 45 sampai 50 pohon,” ujar Pendeta Chrissen Silwanus selaku Ketua Panitia Perayaan Natal bersama di Kabupaten Tabanan 2025.
Ia menjelaskan, pemasangan pohon Natal berbahan material daur ulang itu memang untuk mewarnai Kota Singasana melalui perayaan Natal bersama seluruh umat Kristiani di Tabanan.
Perayaan tersebut akan dibuka pada Rabu (10/12) dan seluruh pohon dan ornamen Natal itu akan terpasang hingga 5 Januari 2026 mendatang.
Chrissen menyebutkan, material daur ulang itu memang sengaja digunakan untuk membuat pohon dan pernak-pernik Natal sebagai bagian dari misi edukasi lingkungan.
“Kami juga ingin mengajak umat kami, bahwa sampah plastik sedang menjadi problem yang perlu dicarikan solusinya. Salah satunya dengan memanfaatkannya sebagai ini (pernak-pernik Natal),” sebutnya.
Pun demikian, setelah perayaan Natal usai, material daur ulang itu diharapkan bisa dipakai kembali agar tidak menjadi sampah.
“Termasuk (pohon Natal) yang utama ini. Bahannya dari tong besi. Tingginya ada tujuh meter dan diameternya mungkin sekitar lima meter,” sebutnya.
Ia menambahkan, perayaan Natal bersama pada 2025 di Kabupaten Tabanan mengangkat tema : Bersinar dalam Kebhinekaan dan Bersatu dalam Damai Natal.
Menurutnya, tema perayaan Natal bersama tersebut sangat relevan dengan kondisi saat ini yang penuh dengan keberagaman, di samping mewarnai Kota Singasana menjelang Natal 2025 dan perayaan Tahun Baru 2026.
“Kami ingin mengingatkan seluruh kalangan, termasuk umak Kristiani, agar bisa berbaur, bertoleransi, dan bermasyarakat dalam bingkai Kebhinekaan. Serta, mengupayakan perbedaan itu sebagai keindahan dan keharmonisan hidup,” pungkasnya. (c/kb).

















