
TABANAN, Kilasbali.com – I Nyoman Wirya terpilih kembali untuk memimpin Partai Golkar untuk yang ketiga kalinya.
Penetapan itu bahkan melalui diskresi dari DPP Partai Golkar karena Wirya sudah dua kali menjabat Ketua DPD II Partai Golkar Tabanan.
Dan, pada Kamis (16/10), Wirya ditetapkan sebagai Ketua DPD II Partai Golkar Tabanan 2025-2030 melalui Musyawarah Daerah (Musda) XI.
Ketua DPD I Partai Golkar Bali, I Gde Sumarjaya Linggih, yang hadir dalam musda itu berharap Wirya dengan kepengurusan lengkapnya nanti mampu menambah kursi legislatif.
“Dan, yang kedua siap-siap untuk pemilihan legislatif dan pilkada ke depan,” kata Sumarjaya Linggih yang akrab disapa Demer usai musda.
Untuk di Tabanan sendiri, pihaknya berharap Golkar Tabanan bisa menambah jumlah perolehan kursi legislatif di tingkat kabupaten dari empat menjadi tujuh kursi.
“Dari empat kami berharap bisa sampai tujuh (kursi). Kami ngomong realistis,” katanya.
Ia tidak memungkiri, urusan Pemilu dan Pilkada masih jauh dari sisi waktu pelaksanaannya.
Namun, persiapan oleh pengurus partai untuk urusan dua agenda politik itu harus dipersiapkan dari sekarang.
Salah satu caranya adalah melakukan kerja-kerja partai yang berpihak pada kepentingan masyarakat.
“Kami digariskan ketua umum jangan banyak seremonial. Lebih baik dananya diperuntukkan masyarakat, pemberdayaan masyarakat, memberikan bantuan,” imbuh Demer.
Program partai lainnya adalah menggelar diskusi-diskusi yang nantinya mengarah pada peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM).
“Tentu nantinya kalau sudah kerja seperti itu simpati masyarakat pada nantinya memberikan penghargaan pada saat pemilu,” ujarnya dengan nada optimis.
Soal Wirya yang terpilih untuk ketiga kalinya melalui diskresi, Demer menegaskan bahwa pada prinsipnya partai memberikan apresiasi bagi kader yang berprestasi.
“(Di) Tabanan termasuk ketuanya berprestasi. Mampu mempertahankan kursi (legislatif) di provinsi. Itu sudah berat untuk Tabanan. Bahkan secara menyeluruh di Bali,” jelasnya.
Selain itu, sambung Demer, kader-kader lainnya masih berpikir untuk maju dalam pencalonan Ketua DPD II Partai Golkar Tabanan.
Sebab, menurutnya, untuk maju sebagai ketua partai bukan hanya persoalan kemampuan teknis dan kecerdasan saja yang diperlukan.
“Tapi akses juga penting dalam mengembangkan partai. Mungkin kader di Tabanan berpendapat akses yang dimiliki Wirya cukup bagus di provinsi maupun kabupaten,” sebutnya.
Di kesempatan itu, ia juga mengingatkan kembali prinsip Golkar dalam urusan pemilihan, khususnya pilkada, yang merujuk pada juklak dan juknis.
Dalam hal ini, Golkar wajib melakukan tiga kali survei untuk memutuskan penentuan pasangan kepala daerah.
Sehingga dalam konteks itu, pilihan Golkar hanya ada dua yakni menang atau ikut menang seperti yang telah ia tegaskan saat memberikan sambutan pada musda.
“Kalau tidak mendukung, kita bisa mengusung. Kalau mendukung, berarti punya kader sendiri. Kalau mengusung dan ikut menang berarti kita menang. Sehingga ada dua pilihan, menang atau ikut menang. Itu konteksnya pilkada,” tegasnya.
Sementara itu, Wirya menjelaskan proses terpilihnya sebagai Ketua DPD II Golkar Tabanan yang mendapatkan perlakuan khusus dari DPP melalui diskresi.
“Saya sudah sarankan (kader) yang ingin silakan maju. Tapi terakhir, teman-teman fraksi dengan dukungan pemegang hak suara batal ikut. Sehingga yang muncul satu. Saya saja,” sebutnya.
Di Golkar ada ketentuan, kepemimpinan partai maksimal dua kali. Lebih dari itu, harus mendapatkan persetujuan dari DPP.
“Surat diskresi itu sudah empat hari lalu turun dan ditandatangani langsung oleh Pak (Ketum Golkar) Bahlil Lahadalia,” sebutnya.
Soal target politik, terutama pada Pemilu, Wirya mengaku bahwa dinamika ke depannya akan lebih dinamis. Kompetisinya akan semakin berat dengan hadirnya berbagai partai.
“Tadi saya sudah bilang, habis musda Golkar menang. Walaupun, menangnya di bawah PDIP,” bebernya.
Yang pasti, sambungnya, di lima tahun mendatang ia hendak meningkatkan perolehan suara di pemilihan legislatif.
Menurutnya, potensi itu ada karena di tiap daerah pemilihan, perolehan suara Golkar masih memiliki sisa yang hampir mencukupi.
“Kalau genjot lagi sedikit bisa. Realistisnya (tambah) dua sampai tiga kursi,” pungkas Wirya yang juga anggota DPRD Bali tersebut. (c/kb)

















