
TABANAN, Kilasbali.com – Kecelakaan tunggal atau out of control (OC) ramai terjadi di Jalur Denpasar-Gilimanuk, Kabupaten Tabanan, selama Juli dan Agustus 2025 lalu.
Ini membuat Satuan Lalu Lintas atau Satlantas Polres Tabanan menggencarkan program klinik pelatihan (coaching clinic) dengan materi safety riding ke pemohon Surat Izin Mengemudi (SIM).
Belakangan ini, kegiatan tersebut rutin dilakukan setiap Sabtu di Satuan Penyelenggara Administrasi Surat Izin Mengemudi (Satpas).
Segmen pelatihan itu lebih banyak diarahkan kepada masyarakat usia produktif di rentang 24-36 tahun yang hendak melakukan aktivitas berkendaraan di jalan raya.
Sesuai data Satlantas Polres Tabanan, selama Juli 2025 ada 84 kecelakaan yang terjadi di Tabanan.
Dari jumlah itu, ada sembilan korban meninggal dunia dan total kerugian seluruhnya diperkirakan mencapai Rp 88 juta.
Selanjutnya pada Agustus 2025, terjadi peningkatan yang totalnya menjadi 103 kejadian dengan jumlah korban jiwa sebanyak lima orang.
Sementara untuk kerugian materi akibat kecelakaan yang terjadi sepanjang Agustus 2025 totalnya diperkirakan Rp 113 juta.
Kendati menunjukkan tren peningkatan, kecelakaan sepanjang Agustus 2025 memberikan gambaran tingkat fatalitas yang menurun dibandingkan sebulan sebelumnya.
Penurunan tingkat fatalitas di Agustus 2025 berada pada kisaran 40 persen lebih yang diukur dari jumlah korban jiwa.
Dari data yang tercatat pada dua bulan tersebut, sebagian besarnya didominasi kecelakaan tunggal atau OC.
“Ini di Juli 2025 ada 62 (kecelakaan OC) dan meningkat menjadi 74 di Agustus 2025,” jelas Kepala Satuan Lalu Lintas Polres Tabanan, AKP Anton Suherman, pada Rabu (24/9).
Ia menambahkan, jalur Denpasar-Gilimanuk menjadi tempat kejadian perkara (TKP) yang mendominasi terjadinya kecelakaan pada dua bulan tersebut.
Dari data itu juga, Anton menyebutkan ada dua titik pada jalur itu yang mendapatkan perhatian penuh karena sering menjadi lokasi kecelakaan.
Satu di titik Dakdakan yang ada di Desa Abiantuwung, Kecamatan Kediri, yang berbatasan dengan Kabupaten Badung.
Di titik ini, sebagian besar kecelakaan terjadi pada sore hari atau di saat warga Tabanan pulang bekerja dari Denpasar atau Badung.
“Kami ambil kesimpulan, itu jam-jamnya orang lelah kerja. Titik itu (Dakdakan) merupakan jarak terjauhnya orang-orang yang kerja di Denpasar,” sebutnya.
Titik berikutnya ada di Jalur Denpasar-Gilimanuk yang ada di wilayah Desa Samsam, Kecamatan Kerambitan.
Di titik ini, kecelakaan juga dipengaruhi faktor kecakapan pengemudi, kondisi kendaraan yang tidak siap, serta medan jalan.
Untuk itulah, pihaknya kemudian melakukan analisa sekaligus evaluasi untuk menyikapi tren kecelakaan pada Juli dan Agustus 2025 itu.
Di saat yang sama, Satlantas Polres Tabanan juga menggencarkan program klinik pelatihan di Satpas untuk memberikan pemahaman safety riding kepada masyarakat.
Pemahaman mengenai safety riding ini mencakup kecakapan pengendara saat mengemudi, kesiapan kendaraan yang hendak dikemudikan, hingga aturan berlalu lintas.
“Ini tindakan preemtif yang dilakukan terhadap (kelompok masyarakat) usia produktif. Ini treatment (perlakuan) sebelum pembuatan SIM. Kami berikan pelatihan terlebih dulu,” pungkasnya.
Di luar itu, pihaknya juga menggiatkan patrol harian di sore hari untuk mengatur dan mengawasi kondisi arus lalu lintas. Terutama pada ruas jalur Denpasar-Gilimanuk yang ada di Dakdakan.
Kemudian, di pagi hari, pihaknya melalui Unit Keamanan dan Keselamatan (Kamsel) menggiatkan program penyuluhan keliling (penling) agar warga yang hendak berangkat kerja ke Denpasar selalu ingat dengan keselamatan saat mengemudi. (c/kb)

















