Murid SRMP 17 Tabanan Mulai Betah, Tidak Ada yang Menangis Lagi Gegara Jauh dari Rumah

TABANAN, Kilasbali.com – Para murid di Sekolah Rakyat Menengah Pertama atau SRMP 17 Tabanan sudah mulai betah tinggal di asrama dan belajar di lingkungan sekolahnya.
Sekadar diketahui, SRMP 17 Tabanan ini ada di Sentra Mahatmiya Bali di Desa Banjaranyar, Kecamatan Kediri.
Sekolah yang diprogramkan secara prioritas oleh Pemerintah Pusat ini mulai beroperasi sejak 14 Juli 2025 dengan jumlah murid lebih dari 70 orang.
Para murid tersebut kebanyakan berasal dari Tabanan. Selanjutnya, Kabupaten Badung, Buleleng, dan Kota Denpasar.
Di awal, beberapa di antara mereka ada yang belum terbiasa tinggal di asrama. Bahkan, beberapa di antaranya sampai menangis dan ingin pulang ke rumahnya.
Namun, seiring waktu, mereka akhirnya mulai terbiasa dengan lingkungan barunya di asrama maupun sekolah.
“Adaptasi antarmurid juga sudah bagus. Mereka sudah betah. Tidak ada lagi yang menangis seperti di awal-awal,” jelas Kepala SRMP 17 Tabanan, I Putu Jaya Negara.
Di luar itu, operasional SRMP 17 Tabanan untuk angkatan pertamanya secara bertahap terus dipenuhi. Salah satunya, soal kekurangan jumlah guru.
Sejauh ini, guru bimbingan konseling atau BK yang sempat tidak ada kini sudah terpenuhi. Sisanya, yang belum terpenuhi yakni guru agama Katolik.
Menurut Jaya Negara, pengisian guru agama Katolik itu akan dilaksanakan langsung oleh pihak Kementerian Agama. “Kami berharap (jumlah) guru bisa terpenuhi dengan segera,” ujarnya.
Selanjutnya, untuk kurikulum, saat ini SRMP 17 Tabanan sudah memasuki tahap persiapan atau matrikulasi sebelum masuk ke kurikulum inti.
Tahap ini setidaknya akan berlangsung selama dua sampai tiga bulan ke depan dengan fokus menanamkan karakter dan kesiapan seluruh murid.
Nantinya, seluruh murid akan menerima buku pelajaran dan sarana belajar lainnya seperti laptop.
Kesiapan sarana pendukung itu dikarenakan sistem belajar mengajar di SRMP 17 Tabanan akan dilakukan dengan memadukan metode digital dan konvensional.
“Sedangkan untuk seragam, siswa baru menerima dua pasang,” pungkas guru yang asal Desa Kukuh, Kecamatan Marga, tersebut. (c/kb)

















