Sejak Jalur Denpasar-Gilimanuk Ditutup, Sejumlah Truk Logistik Terhenti Berhari-hari

TABANAN, Kilasbali.com – Sejumlah truk yang mengangkut logistik terhenti berhari-hari menyusul terputusnya jalur Denpasar-Gilimanuk, depan pasar Bajera, Kecamatan Selemadeg, akibat badan jalan yang jebol.
Sejak jalur Denpasar-Gilimanuk ditutup pada Senin (7/7) sore, beberapa truk logistik masih banyak yang enggan putar haluan menuju jalur Singaraja. Kondisi ini terutama dialami oleh truk-truk yang sudah terlanjur melewati jalur Singaraja.
Dari pantauan pada Jumat (11/7), sebagian besar truk yang terhenti itu terlihat parkir di simpang tiga dekat jalur Denpasar-Gilimanuk lama atau di sebelah timur shortcut Bajera. Sudah empat hari mereka ada di kawasan itu.
Sebagian di antara truk tersebut, ada juga yang terlihat bongkar muatan di jalur tersebut. Muatan yang dibawa dari Pulau Jawa diturunkan ke mobil-mobil boks agar bisa diantarkan ke Denpasar.
Tapi, cara itu tidak semuanya dilakukan. Beberapa sopir di antaranya ada yang memilih untuk diam di tempat karena cara seperti itu memerlukan biaya tambahan yang tidak sedikit. Pun demikian bila putar haluan melalui jalur Singaraja, biaya bahan bakar juga akan bertambah.
Ali (49) asal Pasuruan, Jawa Timur, misalnya. Ia memilih untuk tidak meneruskan perjalanan ke Sempidi, Kabupaten Badung. Ali yang merupakan salah satu sopir truk logistik dari salah satu perusahaan itu sudah empat hari empat malam tertahan di jalur lama.
“Saya berangkat Minggu malam. Rencananya mau kirim (air mineral) ke Sempidi. Sampai sini (Bali) pada Senin siang. Waktu itu, saya belum tahu ada jalan jebol. Akhirnya saya lempeng ke kanan (melewati jalur Singaraja),” cerita Ali.
Tadinya, sambung Ali, truk yang dikemudikannya itu ada di jalur utama dekat badan jalan yang jebol. Namun, belakangan bersama beberapa sopir lainnya diarahkan ke jalur Denpasar-Gilimanuk yang lama agar tidak mengganggu jalur utama.
Ali sendiri mengangkut air mineral galon salah satu merek dengan bobot muatan 25 ton. Bisa saja, ia melakukan bongkar muat di jalur lama tempatnya terhenti sekarang. Namun, ia juga tidak mau rugi karena cara seperti itu memerlukan biaya yang tidak sedikit.
“Di sini ada tiga (truk). Yang lainnya masih terjebak di Gilimanuk. (Bongkar muat di sini) ada biaya tambahannya. Tapi itu cuma buat kami. Yang di rumah (istri dan anak), itu yang kami pikirkan. Anak dan istri makan apa?” keluhnya.
Di samping itu, Ali mengantarkan air mineral itu pakai sistem borongan. Kalaupun bongkar muat di tempatnya berhenti sekarang, perusahaan akan mengeluarkan biaya lagi. “Terus air (yang kami angkut) mau dijual berapa,” sebutnya.
Ali mengaku agak kelimpungan dengan keadaannya sekarang. Kalaupun ambil jalur Singaraja, ia harus negosiasi dengan perusahaan agar bisa mendapatkan uang jalan. Karena dengan pindah jalur, ongkos perjalanan praktis bertambah.
“Kalau putar ke Buleleng, kami nego UJ. Itu uang jalan. Kami singkatnya UJ. Kalau tidak sesuai, ya kami tidak mau,” jelas Ali sembari beberapa kali angkat ponsel karena mesti koordinasi soal barang yang diangkutnya termasuk nego UJ yang dimaksudnya.
Kalaupun bongkar muat di tempat berhenti sekarang, Ali menyebut tergantung dari pihak perusahaan dari gudang. “Mau repot (keluar biaya tambahan) gak mereka?” tegasnya.
Cerita yang sama juga dituturkan Nengah Kus Wahyu Natahgore (59). Sopir logistik asal Karangasem ini juga sudah terhenti empat hari karena terlanjur lewat dari jalur Singaraja.
Ia mengangkut 22 ton biskuit dari Surabaya dan akan didrop di gudangnya yang berada di Ketewel, Gianyar.
Nengah menyebut, uang jalannya sudah menipis karena harus membeli makan dan minum karena terhenti.
“Kalau mau balik lewat Buleleng, biaya solarnya dari mana itu. Belum lagi kondisi jalurnya. Hitung-hitungannya seperti apa? Saya sudah tanya bos, tapi belum ada jawaban,” imbuh Nengah.
Kalaupun hendak bongkar muat di tempatnya berhenti saat ini, ia bertanya soal biaya tambahannya akan ditanggung siapa. “Ya sewa mobilnya, buruh yang oper, dan bahan bakarnya. Biayanya dari mana. Kecuali kalau dari pabrik punya inisiatif seperti itu,” sebutnya. (c/kb)

















