
SINGARAJA, Kilasbali.com — Seorang krama dikabarkan meninggal dunia saat kegiatan mekiis (melasti) Desa Adat Bulian, Kecamatan Kubutambahan, Kabupaten Buleleng, pada Rabu (1/4) sore.
Tak pelak, kabar tersebut mengagetkan masyarakat setempat. Pasalnya, almarhum belakangan diketahui bernama Ketut Budiarta itu dikenal rajin ngayah. Selain itu, kejadian krama meninggal saat ikuti prosesi mekiis baru kali ini terjadi sepanjang pelaksanaan upacara keagamaan. Kontan, kejadian itu, jadi perbincangan hangat di kalangan krama desa adat Bulian.
Informasi dihimpun, desa adat Bulian melakukan prosesi mekiis rangkaian Hari Raya Nyepi. Pelaksanaan mekiis dilakukan setelah puncak Nyepi sesuai dengan dresta desa adat setempat. Prosesi mekiis dilaksanakan pada Rabu (1/4) sekitar pukul 08.00 pagi, diikuti seluruh sarad pelinggih diiringi ratusan krama desa adat Bulian menuju segara (pantai) desa adat Kubutambahan.
Komang Widi Pradnyana Putra yang notebene saudara sepupu almarhum Budiarta menuturkan, mulanya sarad linggih Agung Putra diusung oleh sejumlah krama lainnya menuju segara desa adat Kubutambahan.
Singkatnya, saat balik dari segara desa adat Kubutambahan pulang ke Bulian, sekitar pukul 14.00 siang, sarad linggih Agung Putra kemudian diusung oleh Dadia VII secara berkelompok, termasuk almarhum Budiarta.
Kala itu, almarhum Budiarta ikut ngongong (ngusung) sarad, posisinya pada bagian belakang sarad. Sementara, posisi Komang Widi berada pinggir kiri sarad linggih Agung Putra.
Saat jalan kaki kurang lebih sejauh 400 meter jauhnya, almarhum Budiarta mendadak merasakan hal ganjil.
“Kepada saya, Bli Tut (almarhum Budiarta) ngaku seperti ada yang ngedeng (menarik). Katanya, rasanya kok berat, kok jelek gini rasanya. sebelum akhirnya pengogong sarad linggih langsung diganti,” terang Komang Widi.
Tidak berselang lama, tubuh almarhum Budiarta langsung lemas dan terbaring di tengah jalan dalam situasi ramai.
“Saya berusaha bangunkan, dan juga berusaha minta tolong kepada krama yang lalu lalang, situasinya saat itu ramai melintas melewati kami. Tubuhnya Bli Tut saat itu, sudah lemas, mengeluarkan busa dari mulut dan juga keluar kencing. Perkiraan saya, mungkin Bli Tut kelelahan,” imbuhnya.
Melihat kondisi demikian, pihak pengogong dari keluarga Dadia VII bergegas meminta bantuan kepada pecalang desa adat Bulian, sebelum akhirnya almarhum Budiarta dilarikan menuju RSUD Giri Emas.
“Bli Tut dibonceng (posisi tengah) diapit dua orang pecalang Bulian pakai sepeda motor dilarikan ke RSUD Giri Emas, sebelum akhirnya kami dengar bahwa Bli Tut dikabarkan sudah meninggal,” jelasnya.
Komang Budiarta mengaku syok lantaran masih teringat perjalanan mekiis bersama mendiang almarhum Budiarta.
“Jujur masih syok, antara percaya dan tidak, apa ini hanya mimpi,” singkatnya.
Nyoman Cawiada selaku Klian Dadia VII (Arya Kubon Tubuh) mengungkapkan, jenazah almarhum Budiarta saat ini masih berada di rumah duka di Banjar Dinas Banyu Buah, Desa Bulian, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng-Bali.
“Saat ini, pihak keluarga sedang melakukan ngulapin, baik di lokasi kejadian dan juga di RSUD Giri Emas. Rencananya, almarhum Budiarta akan dimakamkan di setra adat Bulian pada 10 April 2026 mendatang. Mendiang meninggalkan seorang istri dan tiga (3) anak perempuan. Kesehariannya, almarhum petani,” pungkasnya. (Ard/kb)

















