Budidaya Lele dan Sayuran Hidroponik, LPP Kerobokan Intensifkan Program Ketahanan

GIANYAR, Kilasbali.com – Mewujudkan dan mendukung Asta Cita Presiden Republik Indonesia dalam mewujudkan kemandirian ekonomi dan ketahanan pangan nasional, serta menindaklanjuti program akselerasi pembinaan produktif yang digagas oleh Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan RI dan arahan Direktur Jenderal Pemasyarakatan, Lembaga Pemasyarakatan Perempuan (LPP) Kelas IIA Kerobokan terus memperkuat pelaksanaan program ketahanan pangan melalui budidaya ikan lele dan tanaman sayuran, baik secara konvensional maupun sistem hidroponik.
Bahkan, selama kurun waktu hingga Oktober 2025, LPP Kerobokan telah menunjukkan hasil nyata dari kegiatan ini. Program budidaya lele di LPP Kerobokan kini menjadi salah satu ikon pembinaan kemandirian warga binaan. Dalam setahun terakhir, telah dilakukan panen sebanyak 3 kali, dengan total hasil mencapai lebih dari 50 kilogram ikan lele konsumsi.
Sebagian besar hasil panen dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan dapur sehat warga binaan.Selain itu, warga binaan juga dilibatkan secara aktif dalam proses perawatan kolam, pemberian pakan, hingga panen, sebagai bentuk pembelajaran keterampilan wirausaha di bidang perikanan.
Di bidang pertanian, LPP Kerobokan memanfaatkan lahan terbatas dengan pendekatan kreatif. Kegiatan tanam sayur-sayuran seperti kangkung, pokcoy, cabai rawit, dan terong dilakukan secara rutin. Selama tahun 2025, telah tercatat enam kali panen sayur konvensional dengan total hasil sekitar 15 kilogram. Sementara itu, program hidroponik yang menggunakan sistem rak bertingkat berhasil memproduksi pokcoy, selada, dan seledri dengan rata-rata panen setiap enam minggu, menghasilkan sekitar 2 kilogram sayur segar.
Hasil panen hidroponik dan konvensional sementara hanya dapat digunakan untuk menunjang kebutuhan konsumsi internal, terlepas dari itu hal ini tetap dapat menjadi sarana pembelajaran keterampilan pertanian modern bagi warga binaan, sejalan dengan semangat Green Correctional System yang diusung Direktorat Jenderal Pemasyarakatan.
Kepala Lapas Perempuan Kerobokan, Ni Luh Putu Andiyani, menyampaikan bahwa kegiatan ketahanan pangan ini bukan sekadar produksi pangan, tetapi juga bagian dari pembinaan mental dan keterampilan warga binaan.
“Melalui kegiatan ini, warga binaan belajar tentang tanggung jawab, kerja sama, dan arti kemandirian. Panen yang dihasilkan adalah buah dari kerja keras bersama dan menjadi simbol perubahan positif di dalam Lapas,” ujarnya.
Lanjutnya, program ini juga menjadi bentuk nyata dukungan Lapas Perempuan Kerobokan terhadap Asta Cita Presiden poin keempat, yaitu pemerataan pembangunan ekonomi berbasis kemandirian komunitas, sekaligus implementasi arahan Dirjen Pemasyarakatan, Brigjen.Pol. Dr. Mashudi, untuk menjadikan Lapas dan Rutan sebagai sentra pembinaan produktif yang berkelanjutan dan ramah lingkungan. (Ina/kb)


















