Sanjaya Ingin Festival Tanah Lot ke Depannya Jadi Event Kabupaten

TABANAN, Kilasbali.com – Bupati Tabanan, I Komang Gede Sanjaya, berharap Festival Tanah Lot yang rutin digelar tiap tahun lebih berkembang lagi menjadi event kabupaten.
Dengan demikian, Festival Tanah Lot atau Tanah Lot Art and Food Festival bisa menjadi etalase seni, tradisi, dan budaya khas Kabupaten Tabanan.
Keinginan Sanjaya itu diungkapkan di sela-sela penutupan Festival Tanah Lot pada Minggu (24/8).
“Tetap dilanjutkan. Buat lebih baik lagi. Berinovasi lagi. Bukan hanya budaya lokal, namun seluruh, di 349 desa adat dan 133 desa. Jadikan Festival Tanah Lot ini sebagai festival kabupaten,” ujar Sanjaya.
Menurutnya, event seni dan budaya seperti Festival Tanah Lot perlu dilakukan wilayah lainnya sesuai dengan kemampuan. Keberadaan event ini perlu sebagai sarana promosi wisata.
“Apalagi sekarang ini (Festival Tanah Lot) yang keenam kalinya. Artinya, saya lihat setiap tahun berkembang dan berubah,” imbuhnya.
Secara khusus, Sanjaya juga menyebutkan bahwa Festival Tanah Lot juga sudah memiliki konsep utama yang belum bergeser sama sekali sejak pertama kali dimulai.
Konsep yang ia maksudkan adalah memadukan antara kesenian dan kuliner ke dalam satu event.
“Kulinernya ada. Budayanya ada. Warisan di masa lalu, yang sekarang tidak populer lagi, di angkat kembali,” ujarnya.
Dengan demikian, sambungnya, generasi muda sekarang bisa mengetahui keberadaan kuliner khas di wilayahnya sendiri.
Secara terpisah, Manajer Daya Tarik Wisata (DTW) Tanah Lot, I Wayan Sudiana, menyebutkan bahwa pihaknya bersyukur masih bisa menggelar Festival Tanah Lot hingga keenam kalinya.
Ini mengingat kondisi industri pariwisata saat ini yang banyak diwarnai dengan dinamika nasional dan global.
Karena itu, sejak awal Sudiana mengatakan bahwa pihaknya tidak muluk-muluk pasang target.
Festival Tanah Lot dilakukan sebagai upaya untuk menjaga eksistensi sebagai objek wisata.
“Ke depan, kami tetap optimis. Kalau kami hilang dari orbit, bahaya. Tidak ada aktivitas atau event, nanti dikira tidak eksis. Kami tidak ingin begitu,” tegasnya.
Itu sebabnya, sambung Sudiana, pihaknya memandang manfaat jangka panjang dari pelaksanaan festival.
Baik itu untuk promosi wisata, promosi UMKM dan IKM, maupun pelestarian seni, tradisi, dan budaya. (c/kb)

















