Biopori Bersahaja, Atasi Banjir di Pemukiman Padat Peliatan

GIANYAR, Kilasbali.com – Banjir adalah masalah klasik dari tahun ke tahun disetiap musim penghujan. Namun seiring tumbuhnya kesadaran masyarakat terhadap lingkungan, kini titik-titik banjir genangan sudah mulai menyusut.
Hal ini terjadi lantaran setap perumahan kini mulai membauat lubang biopori untuk perasapan air. Demikian pula di Desa Peliatan, hampir di semua pekarangan kini sudah dilengkapi Biopori Bersahaja yang diawalnya digagas oleh pegiat lingkungan setempat.
Pegiat lingkungan, asal Banjar Tengah, Desa Peliatan, Wayan Sudiarta mengungkapkan bahwa sampai saat ini, salah satu solusi yang ramah lingkungan terhadap persoalan air limbah yang efektif adalah dengan membuat biopori.
Terlebih kini memasuki musim penghujan, tanpa biopori ini, malam limpahan air utamanya air rumah tangga terbuang keluar rumah tanpa diresap sedikitpun di pekarangan.
“Kami di Peliatan termasuk pemukiman padat, yang pekarangannya ditutupi beton, sebelumnya air hujan terbuang percuma tanpa ada resapan untuk tanah,” ungkapnya, Senin (2/11/2020).
Kini, Sebut Sudiarta, untuk pemukiman padat seperti di desanya ini masing-masing pekarangan minimal sudah menyediakan tiga biopori kecil untuk satu KK di halaman kecil depan bangunan rumahnya.
Hal ini dinilai sudah cukup menanggulangi persoalan limbah air. “Sesungguhnya ini murah, dengan tiha biopori kecil dan uang pengganti Rp 150, sudah dipastikan memiliki biopori,” jelas Sudiarta.
Namun, bila ingin memasang biopori ukuran lebih besar, cukup merogoh kocek Rp 180 ribu, sudah mendapatkan tiga biopori ukuran besar.
Ditegaskan, ini bukan jual beli, tapi lebih pada uang ganti produksi biopori dan pemasangan.
Disebutnya bila ingin menangani sampah organik di rumah tangga, maka setidaknya dibutuhkan 10-15 lubang biopori.
“Ingat, sampah oraganik dicacah kecil masukkan ke biopori. Bahkan puntung rokok sebaiknya tidak masuk, apalagi plastik,” sarannya.
Bagi warga yang ingin memasang sendiri, cukup menghubungi Biopori Bersahaja, dengan mengganti biaya produksi Rp 20 ribu ukuran kecil dan Rp 25 ukuran besar.
Dikatakannya, pemasangan biopori juga tidak boleh sembarangan, di mana harus mencari titik tangkap air dan lahan bukan bekas urugan.
“Biasanya sebelum memasang biopori, kami survei dulu. Agar pasangan biopori menjadi efektif,” jelasnya.
Guna menggalakkan pemasangan biopori dan sampah organik rumah tangga, dirinya besama kominitasnya telah melakukan berbagai pendekatan, baik kepada pemerintah, tokoh masyarakat dan pendekatan kepada hunian rumah padat.
Disebutkan, animo masyarakat kini cukup tinggi. Karena di pemukiman padat sangat merasakan sangat membutuhkan biopori.
Apalagi penghuni di pemukiman padat lebih memilih menutup pekarangan dengan beton atau batu sikat. (ina/kb)

















