Pemdes Cepaka Gandeng Dua Yayasan Sulap Sampah Plastik Jadi BBM

TABANAN, Kilasbali.com – Pemerintah Desa Cepaka di Kecamatan Kediri memberanikan diri untuk berinovasi mengolah sampah dan menyulapnya menjadi bahan bakar minyak (BBM).
Dengan merangkul Yayasan Desa Putra Jaya Cepaka dan Yayasan Coco Social Fun, pemerintah desa setempat membuat tempat pengolahan sejak 2 Juni 2026 lalu di Banjar Lalang Pasek.
Pengolahan sampah plastik menjadi BBM itu dilakukan menggunakan mesin pirolisis. Hasil olahannya berupa solar dan bensin.
Meski masih dalam tahap uji coba dan edukasi, teknologi ini mampu mengolah sepuluh kilogram sampah plastik pilihan menjadi sekitar delapan liter solar dan 550 mililiter bensin.
Proses pengolahan sampah plastik pilihan menjadi dua jenis bahan bakar itu setidaknya memerlukan waktu salam empat sampai lima jam.
Koordinator Program Yayasan Coco Sosial Fun, Early Indira Salsabila, menjelaskan bahwa tidak semua jenis plastik dapat masuk ke dalam mesin bersuhu 300–330 derajat Celsius tersebut.
Hanya kategori tertentu seperti tutup botol dan botol minuman kemasan yang dapat diproses guna memastikan kualitas bahan bakar yang dihasilkan.
“Sampah yang masuk harus benar-benar dipilah dan ditimbang secara selektif sebelum diolah,” ujar Early pada Selasa (23/6).
Hasil solar dari pengolahan ini pun telah diuji coba pada mesin traktor milik petani setempat dan terbukti berfungsi dengan baik tanpa kendala teknis.
Ia menegaskan, seluruh inisiatif ini murni bersifat sosial dan ditujukan untuk mendukung operasional desa serta pemberdayaan ekonomi masyarakat, termasuk pengembangan UMKM dan kegiatan seni budaya.
“Kami ingin mendampingi Desa Cepaka agar bisa mandiri, bukan semata mencari profit,” tegasnya.
Sementara itu, Perbekel Desa Cepaka, I Ketut Tedja, mengakui bahwa ide ini muncul dari kegelisahan atas kebijakan larangan pengiriman sampah campuran ke TPA sejak Mei lalu.
Dengan karakteristik wilayah perbatasan kota yang memiliki keterbatasan lahan, penumpukan sampah anorganik yang tidak tertangani di TPS3R menjadi tantangan tersendiri.
“Dari situ muncul ide mengolah plastik menjadi BBM sebagai solusi untuk sampah yang tidak tertangani di TPS3R,” sebutnya.
Ia mengakui, upaya ini memang belum menyelesaikan masalah secara menyeluruh, karena kapasitas mesin masih kecil. “Namun bisa menjadi model awal,” sebutnya.
Selain pengolahan plastik, sistem manajemen sampah di Desa Cepaka juga diperkuat melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang mengelola bank sampah terpusat dari tiga banjar.
Warga dilibatkan aktif melalui iuran bulanan, sementara sampah organik mulai dikirim ke pihak pengolah di Gianyar untuk diolah menjadi pupuk sambil menunggu pembangunan tempat pengolahan mandiri.
Inovasi mesin pirolisis yang merupakan bantuan CSR dari Denmark ini kini menjadi bukti nyata bahwa limbah yang dianggap tidak bernilai dapat memberikan manfaat besar bagi masyarakat.
Tedja menekankan bahwa langkah ini merupakan pondasi awal untuk membuktikan potensi ekonomi sirkular di tingkat desa.
“Ini bukan solusi akhir, tapi langkah awal. Kalau ingin menyelesaikan masalah sampah, harus dalam skala besar hingga tonase. Namun setidaknya ini membuktikan bahwa sampah plastik yang dianggap tidak bernilai bisa diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat,” pungkasnya. (c/kb)

















