Dishub Batasi Jenis Kendaraan yang Boleh Melintas di Jembatan Peken Belayu-Kukuh

TABANAN, Kilasbali.com – Dinas Perhubungan (Dishub) Tabanan memberlakukan pembatasan kendaraan yang hendak melintasi jalur melalui jembatan Peken Belayu-Kukuh di Desa Peken Belayu, Kecamatan Marga.
Pembatasan dikhususkan bagi kendaraan jenis truk untuk mencegah risiko longsor susulan pada tebing di sisi utara jembatan yang terus-menerus mengalami longsor susulan. Pembatasan itu sendiri mulai diberlakukan sejak pukul 09.00 Wita pada Jumat (24/4).
Pengalihan arus kendaraan itu hanya dikecualikan bagi kendaraan ringan seperti mobil atau motor. Itupun dengan akses yang buka-tutup karena arus lalu lintas hanya menggunakan satu lajur.
Kepala Dishub Tabanan, I Made Murdika, menjelaskan bahwa pembatasan jenis kendaraan di jalur itu merupakan upaya antisipatif untuk mencegah longsor susulan atau risiko kecelakaan bagi pengguna jalur melalui jembatan itu.
Terlebih, sambungnya, struktur tanah di pinggir jembatan sejak beberapa hari terakhir ini sangat tidak stabil.
“Kami antisipasi agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan, karena kondisi tanah di jalur itu labil dan rawan longsor,” kata Murdika.
Pihaknya sudah menyusun jalur alternatif yang bisa dilalui kendaraan berat seperti truk dan sejenisnya.
Rinciannya, truk dari arah Mengwi menuju Tabanan dialihkan di pertigaan Wiros ke arah selatan atau Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung.
Sementara, truk dari arah Baturiti menuju Tabanan dialihkan ke Jalan Wisnu depan Taman Pujaan Bangsa Margarana.
Tidak hanya itu, pemasangan papan pemberitahuan juga sudah ditempatkan di beberapa titik strategis seperti pertigaan Wiros, Belayu, dan Rindam IX/Udayana.
Sampai saat ini, kendaraan yang hendak melintasi jembatan Peken Belayu-Kukuh memang agak diperketat.
Bahkan, sejak Selasa (21/4), Pemerintah Desa Peken Belayu dan Kukuh mengusulkan adanya pembatasan jenis kendaraan berat yang hendak melintasi jembatan itu.
Ini karena setiap ada truk yang melintas, terlebih yang membawa muatan, kondisi tebing di pinggir jembatan di atas Sungai Yeh Ge itu kerap mengalami longsor susulan.
Kondisi ini diungkapkan Camat Marga, I Gede Nengah Sugiarta. Menurutnya, pergerakan tanah terus terjadi secara bertahap setiap kali ada beban berat yang melintas.
“Setiap ada kendaraan besar lewat, tanahnya turun sedikit demi sedikit. Apalagi saat hujan, longsor bisa terjadi lebih besar,” ungkap Sugiarta. (c/kb)

















