
TABANAN, Kilasbali.com – Bupati Tabanan, I Komang Gede Sanjaya, menyampaikan permohonan maaf atas kelangkaan obat di RSU Tabanan yang dipicu kendala peralihan sistem rekam medis digital.
Ia memastikan operasional rumah sakit pelat merah itu akan segera kembali normal setelah pihak pemerintah daerah berkoordinasi dengan BPJS Kesehatan.
Sanjaya mengaku sempat terkejut saat mendengar keluhan dari seorang dokter senior terkait hilangnya stok obat yang sempat viral di media sosial.
Merespons situasi tersebut, ia langsung memanggil jajaran manajemen rumah sakit untuk meminta klarifikasi atas masalah yang terjadi.
“Akhirnya saya panggil Dirut RSU dan jajaran direksinya. Saya tanyakan kenapa?” ujar Sanjaya usai menghadiri rapat paripurna di DPRD Tabanan pada Rabu (11/3).
Sesuai penjelasan yang diterima, manajemen RSU Tabanan mengakui adanya hambatan operasional akibat transisi dari sistem pencatatan manual ke sistem digital NUHA yang mengacu pada ketentuan Kementerian Kesehatan (Kemenkes).
Sistem baru ini menuntut akurasi data kehadiran pasien yang sangat ketat agar klaim biaya pengobatan bisa dicairkan oleh BPJS.
Sistem ini mengintegrasikan seluruh layanan di rumah sakit, mulai dari front office hingga back office.
Sistem ini berfokus pada peralihan digital untuk meningkatkan efisiensi, akurasi data, dan kualitas pelayanan pasien. Termasuk rekam medis pasien yang berobat.
“Sama seperti di pemda, pegawainya absen tidak bisa diwakilkan, begitu juga dengan sistem NUHA ini, (kehadiran pasien di rumah sakit) tidak bisa (diwakilkan),” ujar Sanjaya memberi ilustrasi terkait penerapan sistem NUHA tersebut.
Akibat data pasien yang tidak terekam dengan sempurna selama masa peralihan, klaim rumah sakit sempat tidak diterima oleh BPJS sehingga berdampak langsung pada ketersediaan obat.
Namun, Sanjaya memastikan kendala tersebut telah teratasi. “Astungkara setelah kami koordinasi dengan BPJS, sekarang RSU berjalan dengan baik,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa proses klaim dipastikan akan kembali normal mulai Kamis (12/3) besok setelah pemerintah daerah melalui Sekda Tabanan berkoordinasi dengan BPJS Kesehatan.
Atas ketidaknyamanan yang dirasakan oleh para tenaga medis, pasien, dan masyarakat, Sanjaya secara terbuka menyampaikan permintaan maaf.
Ia berharap kendala digitalisasi ini menjadi pelajaran bagi semua pihak di lingkungan Pemkab Tabanan dalam meningkatkan akurasi layanan publik.
“Kemarin ada persoalan (di RSU Tabanan) saya atas nama Bupati Tabanan minta maaf. Mudah-mudahan ke depan (layanan rumah sakit) lebih baik lagi,” imbuhnya.
Bupati juga memberikan peringatan keras kepada direksi RSU Tabanan agar tidak menjadikan kendala teknologi sebagai alasan menurunnya kualitas layanan kepada masyarakat.
Ia menekankan agar manajemen mencari tenaga ahli jika menemui kesulitan dalam mengoperasikan sistem digital.
“Jangan jadikan (peralihan) teknologi ini jadi alasan tidak mampu. Bisa cari orang (pihak) yang mampu,” pungkasnya. (c/kb).

















