Kemarau Bikin Petani pada 14 Subak di Tabanan Beralih ke Palawija

TABANAN, Kilasbali.com – Musim kemarau yang mulai melanda wilayah Kabupaten Tabanan memaksa para petani di 14 subak untuk mengubah strategi tanam mereka.
Belasan subak di tujuh desa itu kini beralih dari tanaman padi ke komoditas palawija akibat kian menyusutnya pasokan air irigasi.
Peralihan jenis tanaman ini dilakukan para pemilik lahan untuk menjaga produktivitas pertanian meskipun kondisi cuaca sedang tidak mendukung.
Fenomena pergeseran pola tanam tersebut terpantau paling masif terjadi di wilayah Kecamatan Selemadeg Timur, meliputi daerah Beraban, Tanguntiti, hingga Megati.
Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian (Distan) Tabanan, I Nyoman Pradnyana, mengungkapkan bahwa saat ini para petani sudah memasuki tahap masa tanam untuk jenis tanaman yang lebih tahan kering.
Pihaknya terus melakukan pendataan terhadap luasan lahan yang terdampak oleh minimnya debit air tersebut.
“Total luas lahan yang sudah ditanami palawija hingga saat ini mencapai sekitar 12,43 hektare,” ujar Pradnyana pada Rabu (9/7).
Kondisi persawahan yang tidak memungkinkan untuk ditanami padi membuat jagung menjadi pilihan utama bagi warga subak saat ini.
Keputusan beralih komoditas dianggap sebagai solusi paling rasional agar lahan tidak telantar selama periode kekeringan berlangsung.
“Petani pun memilih menanam komoditas palawija yang relatif lebih tahan terhadap kekeringan,” tegasnya.
Untuk memastikan transisi ini berjalan lancar, Distan Tabanan menyiagakan petugas untuk memberikan pendampingan langsung kepada kelompok tani.
Upaya ini dilakukan agar hasil panen palawija nantinya tetap mampu memberikan nilai ekonomi yang optimal bagi masyarakat pedesaan.
“Kami terus melakukan pemantauan dan pendampingan terhadap petani agar peralihan ke palawija dapat berjalan optimal serta tetap memberikan hasil yang baik bagi petani,” imbuhnya.
Sebelumnya, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tabanan telah mengantisipasi kondisi ini dengan menyalurkan bantuan bibit dalam jumlah besar kepada kelompok subak sepanjang tahun 2026.
Total bantuan mencapai lebih dari 25 ton, yang terdiri dari 23 ton benih padi hibrida serta 2.325 kilogram bibit jagung.
Bantuan bibit jagung tersebut telah didistribusikan ke sejumlah titik strategis, seperti Subak Serampingan sebanyak 450 kilogram dan Subak Gede Mambang sebanyak 1.275 kilogram.
Selain itu, Subak Penyalin di Kecamatan Kerambitan juga menerima pasokan sebanyak 600 kilogram untuk mencakup lahan seluas 40 hektare. (c/kb)

















