Muncul Lubang Sedalam 1 Meter, Jembatan Kelecung-Bebali Tabanan Rawan Jebol

TABANAN, Kilasbali.com – Hujan dengan intensitas tinggi yang melanda seluruh wilayah Tabanan sejak beberapa waktu terakhir ini membuat sejumlah infrastruktur fisik seperti jembatan mengalami kerusakan.
Selain jembatan penghubung Desa Gadungsari di Kecamatan Selemadeg Timur dan Desa Pesagi di Kecamatan Penebel, kondisi serupa juga terjadi pada jembatan Kelecung-Bebali yang menghubungkan Desa Tegalmengkeb dan Berembeng.
Jembatan sepanjang 50 meter di wilayah Selemadeg Timur tersebut dilaporkan mengalami kerusakan akibat tergerus arus sungai atau Tukad Yeh Uun. Pengikisan oleh arus sungai itu bahkan menyebabkan kemunculan lubang sedalam satu meter pada salah satu bagiannya.
Sesuai laporan yang diterima Pemerintah Desa Tegalmengkeb, lubang itu diperkirakan muncul pada Jumat (27/2), bersamaan dengan terjadinya hujan deras selama beberapa hari berturut-turut di wilayah tersebut.
Akibatnya, akses transportasi sempat lumpuh bagi kendaraan roda empat selama dua hari sebelum akhirnya diperbaiki secara swadaya oleh masyarakat bersama aparat TNI dan Polri menggunakan material sumbangan warga.
Perbekel Desa Tegalmengkeb, Dewa Made Widarma, mengungkapkan bahwa kerusakan fisik jembatan tersebut sering kali menipu pandangan mata karena lubang besar tersembunyi di balik aspal.
“Kalau dilihat dari atas memang terlihat kecil, tetapi di bawahnya sudah terkikis luas, kedalamannya sampai sekitar satu meter,” ujar Dewa Widarma pada Senin (2/3).
Kerusakan ini tercatat sudah terjadi sebanyak empat kali sejak jembatan tersebut dibangun. Dengan intensitas kerusakan yang termasuk sering, menurutnya jembatan itu terbilang rawan rusak.
Apalagi, sambungnya, bila debit air sungai sedang meningkat. Bahkan, jembatan itu pernah putus total selama sebulan akibat terjangan luapan air sungai.
Pemerintah desa mengaku telah berulang kali berupaya meminta bantuan perbaikan menyeluruh kepada pemerintah kabupaten maupun provinsi agar warga tidak terus dihantui rasa waswas.
“Usulan sudah sampai sekitar 15 kali. Masyarakat berharap ada perbaikan permanen agar tidak terus rusak,” tegas Widarma.
Keberadaan jembatan ini dinilai sangat penting karena menjadi satu-satunya jalur alternatif bagi warga sekitar maupun masyarakat yang sedang menempuh perjalanan menuju Jembrana bila jalur utama Denpasar-Gilimanuk mengalami gangguan.
Di sisi lain, jembatan dengan lebar hanya empat meter ini memiliki riwayat kelam di mana pernah ada warga yang meninggal dunia akibat hanyut terseret arus sungai.
Kini masyarakat hanya bisa berharap janji perbaikan infrastruktur segera terealisasi demi keamanan mobilitas harian mereka.
“Kami berharap pemerintah segera merealisasikan perbaikan permanen demi menjamin keselamatan dan kelancaran mobilitas masyarakat yang bergantung pada jalur tersebut,” pungkasnya. (c/kb)

















