
TABANAN, Kilasbali.com – Aktivitas pembuatan garam di Desa Kelating, Kecamatan Kerambitan, kini sudah benar-benar berhenti total.
Lahan yang dulunya menjadi tempat produksi garam di desa itu hilang tak bersisa setelah digerus abrasi selama dua tahun terakhir ini.
Pantauan di lokasi menunjukkan bekas area produksi garam kini sudah digenangi air laut sepenuhnya.
Tebing pantai tampak terkikis ombak dan hampir tidak menyisakan ruang bagi warga untuk kembali mendirikan gubuk produksi.
Perbekel Kelating, I Made Suarga, mengonfirmasi bahwa seluruh aktivitas petani garam di desanya terhenti sejak dua tahun lalu.
Hal ini dipicu oleh bencana banjir bandang dan abrasi yang menyapu bersih pondok para warga yang bekerja sebagai pembuat garam.
“Sejak pondoknya rusak, produksi langsung berhenti,” ujar I Made Suarga pada Senin (19/1).
Menurutnya, selama ini garam Kelating bisa dibilang produk unggulan desa.
Garam Kelating punya tekstur yang halus dan rasa gurih tanpa pahit. Keunikannya itu yang membuat garam hasil produksi Desa Kelating laku tanpa menunggu stok habis.
Selain lahannya yang tergerus abrasi, persoalan lainnya yang membuat produksi garam Kelating hilang adalah ketiadaan regenerasi di kalangan penduduk setempat.
“Regenerasi tidak ada. Anak-anak muda sekarang tidak mau bekerja kotor, lebih banyak memilih sektor pariwisata,” imbuh Suarga.
Menurutnya, kondisi ini juga yang membuat tradisi membuat garam di Kelating susah untuk dihidupkan kembali.
Dalam lima tahun terakhir, tercatat hanya satu petani bernama Pak Novi yang masih bertahan menjaga tradisi ini.
Namun, setelah ia meninggal dunia, istrinya yang sudah lanjut usia tidak mampu lagi melanjutkan produksi di tengah ancaman abrasi yang kian parah.
Menurut Suarga, pada 1987 Desa Kelating sempat menyandang predikat sebagai sentra garam rakyat dengan puluhan petani yang tersebar di Banjar Dukuh dan Banjar Dangin Pangkung.
Saat itu, sedikitnya ada enam pondok pembuatan garam yang aktif beroperasi untuk memenuhi permintaan pasar.
Meski pemerintah desa hingga provinsi sempat menunjukkan ketertarikan untuk membangkitkan kembali produksi garam rakyat, namun kondisi lahan dan ketiadaan SDM menjadi ganjalan utama.
Kini, kejayaan garam tradisional Kelating benar-benar telah hilang tergeser oleh terjangan ombak dan perubahan zaman. “Sekarang tinggal kenangan sudah katanya,” pungkas Suarga. (c/kb)

















