
TABANAN, Kilasbali.com – Komunitas Kristen Protestan di Banjar Piling Tengah, Desa Mengesta, Kecamatan Penebel, mulai bersiap menyambut Natal 2025.
Ini terlihat dari suasana yang ada di Gereja Kristen Protestan di Bali (GKPB) Immanuel Piling pada Selasa (23/12).
Mereka sudah mulai gotong royong mempersiapkan tempat ibadah mereka untuk Natal pada Kamis (25/12).
Menariknya, mereka menghiasi tempat ibadahnya dengan nuansa Bali seperti memasang penjor atau hiasan janur.
Bahkan, mereka juga melakukan tradisi mepatung, ngelawar, hingga ngejot kepada warga Hindu di lingkungan sekitar.
Perayaan Natal dengan nuansa Bali di gereja itu sudah menjadi tradisi yang mengakar hampir satu abad sejak ajaran Kristen Protestan masuk ke Piling sekitar 1936.
Tokoh Kristen Protestan, I Wayan Suka Artha, menyebutkan bahwa tradisi itu lebih dari sekadar kebiasaan. Tradisi itu sudah menjadi identitas mereka setiap perayaan Natal.
Tradisi itu juga memperkuat memperkuat keharmonisan hubungan antara warga Kristen dan Hindu yang terbangun di Piling.
“Tradisi ngejot dan ngelawar ini sudah ada sejak leluhur kami. Ini wajib dijaga, karena mencerminkan hubungan harmonis dengan saudara-saudara Hindu di Piling,” ujar Suka Artha, Selasa (23/12).
Suka Artha yang akrab disapa Pan Liang menegaskan bahwa identitas sebagai orang Bali tidak bisa dilepaskan.
“Kami lahir dan hidup di Bali. Budaya Bali adalah jati diri kami, jangan sampai ditinggalkan,” tegasnya.
Ia menceritakan, jejak iman Kristen Protestan di Piling berawal dari kakek buyutnya yakni Kiang Amik yang sebelumnya penganut Hindu.
Pada 1936, Kiang Amik mulai tertarik dengan Alkitab hingga ia mendalaminya ke Abianbase di Kabupaten Badung.
Setelah mendalami Alkitab dan siap, Kiang Amik memutuskan untuk masuk Kristen Protestan. Sejak saat itu, tepatnya pada 27 Februari 1938, komunitas Kristen Protestan di Piling terbentuk.
Awalnya, komunitas tersebut hanya terdiri dari empat kepala keluarga. Kini, seiring berjalannya waktu, jemaatnya telah berkembang menjadi 55 kepala keluarga atau sekitar 150 jiwa.
Meski demikian, mereka masih tetap merasa menjadi orang Bali. Karena itu, nuansa Bali selalu mewarnai perayaan Natal setiap tahunnya. (c/kb).

















